<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>DE IMITATIONE CHRISTI</title>
	<atom:link href="http://tueresmidios.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tueresmidios.wordpress.com</link>
	<description>Meninggalkan yang fana dan meraih yang abadi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Dec 2009 12:59:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tueresmidios.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/60d7a97a55abc4699686c3580af71422?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>DE IMITATIONE CHRISTI</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tueresmidios.wordpress.com/osd.xml" title="DE IMITATIONE CHRISTI" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tueresmidios.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 2) ?</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/21/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/</link>
		<comments>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/21/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 12:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tueresmidios</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indulgensi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengampunan Dosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/21/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/</guid>
		<description><![CDATA[Sakramen Pengakuan Dosa bertentangan dengan Alkitab? Tulisan bagian pertama Sakramen Pengakuan Dosa telah membahas apa itu dosa, perbedaan dosa, konsekuensi dosa, dan juga tahapan dosa, sehingga kita dapat melihat bahwa Tuhan benar-benar merencanakan Gereja-Nya untuk diberiNya kuasa mengampuni dosa. Namun sayangnya tidak semua orang percaya akan hal ini. Lebih sayang lagi kalau umat Katolik yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=229&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4>Sakramen Pengakuan Dosa bertentangan dengan Alkitab?</h4>
<p><a href="http://katolisitas.org/?p=218"><a href="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/12/pengakuan-dosa-2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-228" title="pengakuan-dosa-2" src="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/12/pengakuan-dosa-2.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>Tulisan bagian pertama</a> Sakramen Pengakuan Dosa telah membahas apa itu dosa, perbedaan dosa, konsekuensi dosa, dan juga tahapan dosa, sehingga kita dapat melihat bahwa Tuhan benar-benar merencanakan Gereja-Nya untuk diberiNya kuasa mengampuni dosa. Namun sayangnya tidak semua orang percaya akan hal ini. Lebih sayang lagi kalau umat Katolik yang diberi berkat yang indah ini tidak menyadari manfaatnya dan menggunakannya.<span id="more-229"></span></p>
<p>Mari sekarang kita melihat beberapa keberatan yang diajukan tentang Sakramen Pengakuan Dosa, terutama dari umat Kristen, non-katolik. Mereka mungkin akan mengajukan keberatan-keberatan yang bersumber dari Alkitab, seperti berikut ini:</p>
<h4><span style="text-decoration:underline;">Keberatan 1</span>: Mengaku dosa hanya kepada Tuhan saja, bukan kepada manusia.</h4>
<p>Keberatan pertama ini mengatakan bahwa hanya kepada Tuhan sajalah kita mengakukan dosa kita (Mzm 32:5; Neh 1:4-11; Dan 9:3-19; Ez 9:5-10; Ez 10:11), karena hanya Tuhan saja yang dapat mengampuni dosa (Yes 43:25). Dengan dasar inilah, orang Kristen mengatakan bahwa seharusnya mengakukan dosa secara langsung kepada Tuhan dan tidak perlu untuk mengaku dosa di depan pastor. Mari kita melihat bahwa sebenarnya<strong>,</strong> <strong>ada suatu kesinambungan dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yaitu bahwa Tuhan menggunakan perantara untuk mengampuni </strong><strong>dosa</strong><strong> seseorang</strong>.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pada masa Perjanjian Lama</span>, kalau seseorang melakukan kesalahan, maka dia harus membawa korban tebusan dan seorang imam harus mengadakan perdamaian bagi orang itu dengan Tuhan, sehingga pendosa tersebut dapat memperoleh pengampunan (Im 19:20-22). Musa menjadi perantara antara bangsa Israel yang telah berbuat dosa dengan Tuhan (Kel 32:20). Pertanyaannya, kenapa mereka tidak minta ampun saja kepada Tuhan, namun harus melalui imam dan juga nabi Musa? Bukankah mereka juga bisa minta ampun kepada Tuhan secara langsung? Hal ini disebabkan karena <strong>Tuhan seringkali memakai perantara, baik nabi maupun imam untuk menjembatani manusia dengan Tuhan</strong>. Yang penting adalah para perantara tersebut benar-benar membawa umat kepada Tuhan.</p>
<p>Namun mungkin ada yang mengatakan bahwa konsep perantara hanya terjadi di Perjanjian Lama, sedang di Perjanjian Baru tidak ada perantara lagi, karena Yesus adalah perantara satu-satunya antara manusia dengan Tuhan (Lih 1 Tim 2:5; Ibr 3:1; Ibr 7:22-27; Ibr 9:15; Ibr 12:24). Mari sekarang kita melihat bukti bahwa Tuhan juga memakai perantara di dalam Perjanjian Baru.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Dalam Perjanjian Baru</span>, Yesus tidak pernah melarang perantara sejauh perantara tersebut berpartisipasi dalam karya keselamatan Yesus. Pada saat Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, Yesus menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri mereka kepada para imam (Luk 17:12-14) agar para imam dapat menyatakan mereka tahir. Rasul Petrus juga mengajarkan tentang partisipasi dalam karya keselamatan Tuhan, yaitu setiap dari kita menjadi batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi imamat kudus (1 Pet 2:5). Lebih lanjut Rasul Petrus menegaskan bahwa semua umat Allah adalah bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, kepunyaan Allah sendiri (1 Pet 2:9). Pemilihan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan untuk mendatangkan keselamatan pada bangsa-bangsa lain membuktikan bahwa Tuhan menggunakan ‘perantara’ untuk melaksanakan rencana-Nya.</p>
<p>Dalam konteks 1 Pet 2:9, kita melihat bahwa rasul Petrus merujuk kepada Kel 19:5-6, yang menyatakan bahwa Tuhan memerintahkan Musa untuk memberitahukan kepada seluruh umat Israel, bahwa kalau mereka berpegang pada perintah Tuhan, mereka akan menjadi umat kesayangan, kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Disamping mengangkat Israel sebagai kerajaan imam, Perjanjian Lama juga mengatakan bahwa suku Lewi dipersiapkan secara khusus sebagai imam (Bil 3:5-13). Apakah kedua ayat di atas bertentangan? Tidak, sebab secara umum memang bangsa Israel dipersiapkan Tuhan menjadi imam dan bangsa yang kudus, namun secara khusus, Tuhan juga menunjuk suku Lewi untuk menjadi imam dan menjalankan tugas yang berhubungan dengan korban dan persembahan. Suku Lewi yang ditunjuk secara khusus oleh Tuhan untuk menjadi imam (<em>imamat jabatan</em>) melayani umat yang lain atau imam secara umum (<em>imamat bersama</em>). Hal yang sama dapat diterapkan di dalam ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik mengenal adanya dua imamat: (1) Imamat jabatan dan (2) imamat bersama. Dimana imamat jabatan melayani imamat bersama.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn1">[1]</a></p>
<p>Kita juga melihat bahwa rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa dia adalah utusan Kristus, dan dengan mendengarkan Rasul Paulus, maka sama saja mereka mendengarkan Kristus, karena Allah menasihati mereka dengan perantaraan para rasul (2 Kor 5:17-21). Rasul Yakobus mengatakan bahwa kita harus saling mendoakan dan mengakukan dosa (Yak 5:16). Dengan ini, maka dapat disimpulkan bahwa mengaku dosa bukan hanya kepada Allah, namun juga melalui perantara yang ditunjuk oleh Allah, seperti Rasul Paulus, Rasul Yakobus, dll.</p>
<h4>Keberatan 2: Hanya Yesus yang dapat mendamaikan kita dengan Tuhan, bukan manusia.</h4>
<p><span style="text-decoration:underline;">Hanya Yesus sendiri yang dapat mendamaikan kita dengan Tuhan</span> atas segala dosa-dosa yang dibuat oleh umat manusia (1 Yoh 2:2; 1 Tim 2:5). Karena hanya ada <span style="text-decoration:underline;">satu Imam</span> yang benar, yaitu Yesus Kristus (Ibr 3:1; Ibr 7:22-27). Imam atau pastor di Gereja Katolik tidak dapat menggantikan Yesus, satu-satunya Imam besar dan benar.</p>
<p>Namun, <strong>sebenarnya, Yesus sendiri yang memberikan kuasa kepada Gereja yang dilaksakan oleh para imam</strong>. Mari sekarang kita melihat apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri sebelum Dia naik ke Surga di dalam Yohanes 20:21-23 yang menjadi dasar untuk Sakramen Pengampunan Dosa.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn2">[2]</a></p>
<p>21) Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! <strong><span style="text-decoration:underline;">Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu</span></strong>.” 22)Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata: “<strong><span style="text-decoration:underline;">Terimalah Roh Kudus</span></strong>. 23)<strong><span style="text-decoration:underline;">Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, </span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">dosa</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">nya tetap ada</span></strong>.”</p>
<p>Dari ayat ini, kita dapat menyimpulkan beberapa hal:</p>
<ol>
<li>Yesus      memberikan pengutusan kepada para murid untuk meneruskan karya keselamatan      Allah (ayat 21). Untuk apakah Yesus datang ke dunia ini? Dia datang untuk      menjadi perantara antara Allah dan manusia dengan cara: mewartakan kabar      gembira (lih. Luk 4:16-21), menjadi Pengantara untuk menyelamatkan semua      orang (Ibr 7:25), dengan kuasa-Nya sebagai Raja dari segala raja (Why      19:16). Dan secara khusus tugas perantaraan tersebut dipenuhi dengan cara      membebaskan manusia dari belenggu dosa dengan pengampunan dosa (1 Pet 2:21-25; Mrk 2:5-10).<a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn3">[3]</a></li>
<li>Namun      karya keselamatan ini tidak dapat dijalankan oleh manusia tanpa karya Roh      Kudus. Oleh karena itu, Yesus menghembuskan Roh-Nya kepada para murid,      sehingga mereka diberi kemampuan untuk menjalankan misi yang dipercayakan      oleh Yesus (ayat 22). Dan ini juga merupakan antisipasi untuk hari      Pentakosta.</li>
<li>Dan      lebih lanjut, Yesus memberikan penugasan dan otoritas yang begitu penting      kepada para murid, yaitu <strong><span style="text-decoration:underline;">otoritas untuk mengampuni </span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">dosa</span></strong>. Memang hanya Tuhan yang      mempunyai hak untuk mengampuni dosa manusia. Namun Yesus sendiri yang      memberikan kekuasaan ini kepada para murid. Kalau ditanya, apakah para      murid mempunyai kemampuan untuk mengampuni dosa? Tidak. Namun ini adalah      perintah dari Yesus sendiri. Yesus memberikan Roh KudusNya kepada para      murid dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengampuni dosa untuk      menguduskan umatNya sampai akhir jaman. Jadi di ayat ini, Yesus, Sang Imam      Agung memberikan mandat kepada para murid untuk meneruskan misi      keselamatan di dunia ini dengan otoritas untuk mengampuni dosa dalam nama Kristus. Ayat ini juga      mengingatkan kita tentang pengakuan Rasul      Petrus akan ke-Allahan Yesus Kristus di Kaisarea Filipi, sehingga Yesus      memberikan kunci kerajaan surga kepada Rasul Petrus (Mat 16:16-19).</li>
</ol>
<p>Mungkin ada yang berkeberatan dengan penafsiran ini. Ada yang mengatakan bahwa di ayat 23, Yesus hanya memberikan doktrin keselamatan dan penghukuman.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn4">[4]</a> Ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah memberikan mandat kepada manusia untuk mengampuni dosa, karena hanya Tuhan saja yang berhak untuk mengampuni dosa.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn5">[5]</a> Ada juga yang mengatakan bahwa perintah ini hanya untuk para rasul dan berhenti setelah para rasul wafat. Di sinilah kita melihat, bahwa ini adalah salah satu dari ayat-ayat di dalam Alkitab yang tidak ditafsirkan secara harafiah oleh orang-orang Kristen non-Katolik yang biasanya menafsirkan ayat-ayat Alkitab secara harafiah.</p>
<p>Kalau kita baca secara lebih teliti, kita tidak dapat menghindari konsekuensi logis dari ayat 21, yang menyatakan relasi antara Allah Bapa dan Allah Putera dan pengutusan para murid, kemudian dilanjutkan dengan Allah Roh Kudus yang terus berkarya di dunia ini membantu para murid untuk menjalankan misi pengampunan dosa (ayat 22). Kemudian <strong>diperjelas dengan perintah yang sangat spesifik, yaitu mengampuni atau tidak mengampuni </strong><strong>dosa</strong>. Dan karena tugas para murid kemudian diteruskan oleh para uskup dan termasuk pembantu uskup, yaitu para pastor, maka kuasa mengampuni dosa yang diberikan oleh Yesus tidak hanya ‘berhenti’ pada para rasul, melainkan diteruskan juga kepada para uskup dan para imam (ayat 23).</p>
<p>Hal ini berkaitan erat dengan amanat yang diberikan Yesus kepada para murid sebelum Ia naik ke surga, yaitu agar para murid pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus … (Mat 28:18-20). Kita tidak dapat mengatakan bahwa ini hanya berlaku untuk para rasul dan murid-murid perdana, namun kita menyimpulkan bahwa amanat agung ini tetap berlaku sampai sekarang. Demikian juga dengan perintah untuk mengampuni dosa. Perintah ini tetap berlaku sampai sekarang, yaitu bahwa para imam Gereja Katolik diberikan kuasa oleh Yesus sendiri untuk mengampuni dosa.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana para uskup dan imam dapat mengampuni dosa kalau mereka tidak mendengarnya terlebih dahulu? Tentu umat harus terlebih dahulu mengakukan dosanya, dan kemudian para imam dengan hak yang diberikan Yesus melalui Gereja-Nya membuat pertimbangan untuk memberikan pengampunan atau tidak. Hal inilah yang terjadi di dalam Sakramen Pengampunan Dosa.</p>
<h4>Bukti Sakramen Pengakuan Dosa dari Bapa Gereja</h4>
<p>Pembuktian di atas dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita bahwa ada suatu konsistensi dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, bahkan terus berlanjut sampai saat ini.</p>
<p>Mari kita lihat bagaimana para Bapa Gereja pada abad awal menerapkan Sakramen Pengakuan Dosa, yang juga membuktikan bahwa Sakramen ini bukanlah karangan Gereja Katolik, namun berdasarkan Alkitab dan Tradisi suci yang terus berkembang secara konsisten, yang diturunkan sejak dari jaman para rasul.</p>
<ul>
<li><strong>Didache</strong> (awal abad ke-2) mengatakan pentingnya <span style="text-decoration:underline;">pertobatan dan mengakuan dosa</span> sebelum menerima Komuni Kudus. (Bab 14)</li>
<li><strong>St.      Clemens dari Roma </strong>(<span style="text-decoration:underline;">+</span> 96) mengatakan kepada jemaat di      Korintus untuk <span style="text-decoration:underline;">taat kepada para penatua</span> (<em>presbyters</em>) dan      untuk menerima disiplin dan melakukan silih dosa      dengan sepenuh hati (Cor. 57,1). Karena disebutkan “para penatua,” maka      dapat disimpulkan sebagai disiplin dari Gereja.</li>
<li><strong>St.      Ignasius dari Antiokia</strong> (<span style="text-decoration:underline;">+</span> 107) mengatakan bahwa Tuhan      mengampuni mereka yang melakukan penitensi ketika mereka kembali kepada      persatuan <span style="text-decoration:underline;">dengan Tuhan</span> dan kepada persatuan <span style="text-decoration:underline;">dengan para uskup</span>.      (Philad. 8, I; cf. 3,2)</li>
<li><strong>St.      Policarpus, </strong>murid rasul Yohanes, (<span style="text-decoration:underline;">+</span> 156) mengatakan kepada      para penatua untuk lebih lemah lembut dan berbelaskasihan kepada semua,      jangan terlalu keras dalam keputusan (catatan penulis: <em>dalam </em><em>pengakuan</em><em> </em><em>dosa</em>), karena tahu bahwa kita semua adalah      pendosa. (Phil 6,1)</li>
<li><strong>St.      Irenaeus</strong> (<span style="text-decoration:underline;">+</span> 202) melaporkan banyak kejadian tentang      orang-orang yang melakukan pelanggaran dosa      dan kemudian <span style="text-decoration:underline;">diterima kembali dalam komunitas Gereja setelah mengakukan      dosanya secara terbuka, melakukan silih dosa</span> (Adv. Haer. I 6,3; I 13,5,7; IV 40, I).</li>
<li><strong>Tertullian</strong> (155-222) dalam tulisannya <em>De Poenitentia</em>, mengatakan bahwa ada      dua penitensi, yang pertama adalah sebagai persiapan untuk Baptisan (C.      I-6), dan yang kedua adalah <span style="text-decoration:underline;">penitensi setelah Baptisan</span> (C. 7-12).</li>
<li><strong>St.      Klemens dari Aleksandria</strong> (150-211) mengatakan bahwa pintu-pintu      terbuka untuk semua, di mana dalam kebenaran seluruh hatinya kembali      kepada Tuhan, dan Tuhan menerima dengan hati yang penuh kegembiraan      anak-anak yang benar-benar melakukan silih dosa (Quis dies salvetur 39, 2;      cf. 42). … yang membutuhkan kerja keras adalah pengampunan dosa dengan      melakukan silih dosa, dimana diperoleh <span style="text-decoration:underline;">dari      pengakuan dosa      di depan “imam dari Tuhan</span>” dan mempraktekan silih dosa yang berat (In Lev. Hom 2, 4). Cf. C. Celsum      III-51.</li>
<li><strong>St.      Cyprian</strong> (<span style="text-decoration:underline;">+</span> 258) mengemukakan bahwa <span style="text-decoration:underline;">Gereja Katolik      mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa</span>,      termasuk dosa kemurtadan (Ep. 55, 27).</li>
<li><strong>St.      Ambrose</strong> (<span style="text-decoration:underline;">+</span> 338) mengatakan bahwa dosa      diampuni melalui Roh Kudus. Namun manusia <span style="text-decoration:underline;">memakai para pelayan Tuhan</span> untuk mengampuni dosa, mereka tidak menggunakan kekuatan mereka sendiri.      Karena mereka mengampuni dosa bukan atas      nama mereka, namun atas nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Mereka meminta,      dan Tuhan memberikannya… (<em>On The Holy Spirit</em>, Bk.3, Chap. 18; ML      16, 808; NPNF X, 154).</li>
<li><strong>St.      Agustinus dari Hippo </strong>(<span style="text-decoration:underline;">+</span> 354-430) mengatakan bahwa jangan      memperdulikan orang-orang yang menolak bahwa <span style="text-decoration:underline;">Gereja Tuhan mempunyai      otoritas untuk mengampuni dosa</span> … (<em>The      Christian Combat</em>, Chap. 31:33; ML 40, 308; FC IV, 350).</li>
</ul>
<p>Dari sini kita melihat bahwa jemaat awal, yang diwakili oleh para Bapa Gereja telah menyatakan bahwa Gereja Katolik sesuai dengan perintah Yesus diberi kuasa untuk mengampuni atau tidak mengampuni dosa. Jadi sampai tahap ini, kita tahu bahwa Alkitab mendukung adanya Sakramen Pengakuan Dosa dan tulisan para Bapa Gereja memperkuat bahwa Sakramen Pengakuan Dosa telah diterapkan pada jemaat awal, walaupun dengan cara yang berbeda dengan sekarang.</p>
<p>Di samping para Bapa Gereja, para pendiri gereja Protestan- pun mengajarkan Pengakuan dosa kepada seorang ‘<em>confessor</em>‘, seperti yang diutarakan oleh Martin Luther:</p>
<ul>
<li>Dalam      bukunya “<em>Small Catechism</em>” di bagian pengakuan dosa atau      “Confession”, Luther mengatakan bahwa pengakuan dosa terdiri dari dua      bagian: (1) kita mengakukan dosa kita, (2) kita menerima absolusi, atau      pengampunan dosa, dari pemberi pengakuan dosa      atau “confessor”, seperti menerimanya dari Tuhan sendiri.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn6">[6]</a></li>
<li>Luther      juga mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan seseorang mengambil      pengakuan dosa pribadi darinya, dan dia      tidak akan menyerahkan harta yang tak ternilai, karena dia tahu akan kekuataan      yang didapatkan dari pengakuan dosa. ….      Biarlah setiap orang datang dan mengakukan dosanya      kepada yang lain secara rahasia, dan menerima apa yang dia katakan seperti      Tuhan sendiri yang berbicara melalui mulut orang tersebut. <a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn7">[7]</a></li>
</ul>
<p>Dari sini kita melihat, bahwa pendiri gereja Protestan-pun mempunyai penghargaan yang begitu tinggi terhadap pengakuan dosa. Jadi, kalau kita tetap berprinsip bahwa Sakramen Pengakuan Dosa hanyalah karangan Gereja Katolik semata, maka prinsip ini sama saja dengan mengatakan bahwa semua Bapa Gereja melakukan kesalahan dan tidak tahu apa-apa dalam menafsirkan Alkitab, termasuk di sini adalah Martin Luther. Martin Luther sendiri, walaupun tidak membuat pengakuan dosa sebagai satu sakramen, namun dia mengatakan bahwa dia begitu menghargainya, karena pengakuan dosa memberikan kekuatan. Luther tidak mengatakan – di bagian Confession dari Small Catechism – bahwa kita mengaku secara langsung kepada Tuhan, namun Luther mengaku bahwa diperlukan confessor atau orang yang menerima pengakuan dosa. Pertanyaannya adalah, kenapa begitu banyak gereja yang menghilangkan pengakuan dosa dan mengatakan bahwa cukup untuk mengaku kepada Tuhan secara langsung? Ini adalah bahan permenungan bagi kita.</p>
<h4>Perkembangan Sakramen Pengakuan Dosa dalam sejarah Gereja</h4>
<p><strong>Pada masa awal</strong>, dosa-dosa berat yang dilakukan umat yang telah dibaptis, hanya dapat diampuni setelah mereka disatukan kembali ke dalam Gereja melalui uskup. Beberapa ajaran yang bertentangan dengan Gereja Katolik mengatakan bahwa dosa-dosa yang berat dan serius, seperti: perzinahan, kemurtadan, dan pembunuhan tidak dapat diampuni. Namun, Gereja Katolik melalui Konsili of Nicea (325) menolak hal tersebut dan mengatakan bahwa Yesus mengajarkan untuk mengampuni semua pendosa. Pada tahap ini, Sakramen Pengakuan Dosa hanya dipraktekkan untuk mengampuni dosa-dosa yang berat, dan biasanya dilakukan secara terbuka di depan seluruh umat dan juga uskup.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn8">[8]</a> Kemudian uskup akan memberikan penitensi atau silih dosa, yang kemudian pada hari Paskah mereka yang telah menjalani penitensi diterima kembali dalam komunitas.</p>
<p><strong>Pada abad ke-6</strong>, para biarawan dari Irlandia mulai menerapkan pengakuan dosa untuk dosa-dosa yang tidak berat dan juga dilakukan secara pribadi bukan umum. Dan kemudian penitensi juga diperingan.</p>
<p><strong>Pada abad ke-12</strong>, dicapai suatu rumusan yang baku yang direrapkan sampai sekarang. Dimana Sakramen Pengakuan Dosa terdiri dari empat bagian: 1) penyesalan atau “contrition” (dukacita dan konversi), 2) pengakuan dosa kepada pastor, 3) penitensi atau “satisfaction” (melakukan penitensi sebagai konsekuensi dari dosa yang dilakukan), 4) pengampunan atau “absolution” (pengampunan dari Tuhan, yang dilakukan melalui pastor).</p>
<p><strong>Pada abad ke-16</strong>, gerakan Protestantism mempertanyakan keabsahan dari Sakramen Pengakuan Dosa. Sebagai jawaban, Konsili Trente (1551) mendefinisikan keabsahan dari Sakramen Pengakuan Dosa, yang terdiri dari empat hal diatas: <em>contrition</em>, <em>confession</em>, <em>satisfaction</em>, dan <em>absolution</em>.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn9">[9]</a> Roman Catechism (1566) mendefinisikan secara jelas tentang essensi dan ritual dari sakramen ini.</p>
<p><strong>Pada abad ke-20</strong>, Konsili Vatican II (1962-1965) dan Katekismus Gereja Katolik (1986-1992)<a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn10">[x]</a> menegaskan kembali keempat komponen dari Sakramen Pengakuan Dosa, namun dengan mengadakan pendekatan yang lebih bersifat “<em>pastoral</em>“. Penggunaan ayat-ayat kitab suci ditambahkan, diberikan kesempatan untuk mengaku dosa berhadapan muka dengan pastor atau dibatasi oleh penyekat, sehingga pastor tidak mengenal siapa orang yang mengaku dosa. Juga diijinkan untuk mengadakan ibadah tobat secara bersama-sama, yang kemudian disusul dengan pengakuan dosa secara pribadi. Alternatif yang lain, dalam kondisi yang benar-benar terpaksa, seperti dalam perang, kecelakaan fatal, dll, dapat diberikan pengampunan secara bersama-sama.</p>
<h4>Perkembangan organik dari Sakramen Pengampunan Dosa</h4>
<p>Setelah kita melihat pembuktian dari Alkitab, Bapa Gereja, dan juga penerapan dan perkembangan doktrin Sakramen Pengakuan Dosa, kita dapat menyimpulkan bahwa Sakramen ini bukanlah karangan Gereja Katolik semata, namun sungguh-sungguh bersumber kepada Yesus. Dan kalau dilihat perkembangan dari doktrin ini hanya semata-mata untuk membuatnya menjadi lebih jelas. Perkembangan doktrin seperti ini adalah disebut “<strong>perkembangan organik</strong>“, seperti yang dituturkan oleh Cardinal John Henry Newman dalam bukunya “<em>The Development of Christian Doctrine</em>“.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_edn11">[11]</a></p>
<p>Perkembangan organik adalah tanda bahwa doktrin ini berkembang secara murni dan tidak dibuat-buat atau merupakan karangan gereja. Ini bukanlah sesuatu yang tadinya tidak ada, baru setelah ribuan tahun menjadi ada. Yang perlu dipertanyakan adalah, kalau dari tadinya ada – seperti yang telah ditunjukkan oleh bukti-bukti diatas – kenapa tiba-tiba setelah jaman Martin Luther dan juga penerusnya menjadi tidak ada?</p>
<p>Untuk mengatakan bahwa sakramen ini hanya merupakan karangan belaka, orang tersebut harus berani juga berkata bahwa dia lebih pandai dalam menafsirkan apa yang dikatakan oleh Yesus dan para rasul daripada jemaat Kristen abad awal, para Bapa Gereja, juga Martin Luther, dan semua konsili para uskup.</p>
<h4>Panggilan untuk kembali mempercayai Sakramen Pengakuan Dosa</h4>
<p>Dengan semua bukti di atas, sungguh sangat sulit untuk menyangkal bahwa Yesus sendiri yang menginstitusikan Sakramen Pengakuan Dosa. Kalau Yesus yang menginginkan agar Sakramen ini dapat dipergunakan untuk membantu umat-Nya menjadi kudus, maka sebagai umat-Nya, kita hanya dapat mensyukuri dan berterimakasih atas berkat yang begitu ajaib. Kalau kita pikir, malaikatpun tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, namun Yesus sudah memberikan kuasa-Nya kepada Gereja yang dilaksanakan oleh para imam untuk mengampuni dosa, demi maksud pengudusan umat Allah.</p>
<p>Sebagai umat Katolik, kita harus mensyukuri berkat yang begitu indah ini. Dan kita dipanggil bukan hanya untuk mensyukuri dan menggunakan Sakramen Pengakuan Dosa untuk membantu kita hidup kudus.</p>
<p>Dalam tulisan mendatang, kita akan melihat dan menelaah <a href="http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/">apakah sebenarnya yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang Sakramen Pengakuan Dosa</a>.</p>
<hr size="1" /><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref1">[1]</a> Gereja Katolik , <em>Katekismus Gereja Katolik</em>, Edisi Indonesia., 1547.; Vatican II, <em>Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium</em> (Pauline Books &amp; Media, 1965), 10.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref2">[2]</a> <em>KGK</em>, 1461.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref3">[3]</a> Tim Staples, <em>Nuts &amp; Bolts: A Practical Guide for Explaining and Defending the Catholic Faith</em> (Basilica Press, 1999), p.74-75.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref4">[4]</a> Bible Commentary by Adam Clarke (<a href="http://www.godrules.net/library/clarke/clarkejoh20.htm">http://www.godrules.net/library/clarke/clarkejoh20.htm</a>): Whose soever sins ye remit – See the notes on Mat_16:19; Mat_18:18. <em>It is certain God alone can forgive sins; and it would not only be blasphemous, but grossly absurd, to say that any creature could remit the guilt of a transgression which had been committed against the Creator. The apostles received from the Lord the doctrine of reconciliation, and the doctrine of condemnation. They who believed on the Son of God, in consequence of their preaching, had their sins remitted; and they who would not believe were declared to lie under condemnation. The reader is desired to consult the note referred to above, where the custom to which our Lord alludes is particularly considered. Dr. Lightfoot supposes that the power of life and death, and the power of delivering over to Satan, which was granted to the apostles, is here referred to. This was a power which the primitive apostles exclusively possessed.</em></p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref5">[5]</a> Bible Commentary by John Gill: Joh 20:23 (<a href="http://www.freegrace.net/gill/">http://www.freegrace.net/gill/</a>) – Whose soever sins ye remit,…. <em>God only can forgive sins, and Christ being God, has a power to do so likewise; but he never communicated any such power to his apostles; nor did they ever assume any such power to themselves, or pretend to exercise it; it is the mark of antichrist, to attempt anything of the kind; who, in so doing, usurps the divine prerogative, places himself in his seat, and shows himself as if he was God: but this is to be understood only in a doctrinal, or ministerial way, by preaching the full and free remission of sins, through the blood of Christ, according to the riches of God’s grace, to such as repent of their sins, and believe in Christ; declaring, that all such persons as do so repent and believe, all their sins are forgiven for Christ’s sake….</em></p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref6">[6]</a> Dalam salah satu bagian dari “<em>Book of Concord</em>” yang menjadi pegangan bagi para pengikut Martin Luther, disebutkan apa itu pengakuan dosa, cara dan prosesnya, yang dapat diakses di <a href="http://www.bookofconcord.org/smallcatechism.html#confession">http://www.bookofconcord.org/smallcatechism.html#confession</a>.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref7">[7]</a> Martin Luther, Sermon of 16 March 1522; LW, Vol. 51, 97-98</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref8">[8]</a> Kita bisa melihat dari beberapa dokumen dari St. Ignasius dari Antiokia (<span style="text-decoration:underline;">+</span> 107) mengatakan bahwa Tuhan mengampuni mereka yang melakukan penitensi ketika mereka kembali kepada persatuan dengan Tuhan dan kepada persatuan dengan para uskup. (Philad. 8, I; cf. 3,2). Dan St. Cyprian (<span style="text-decoration:underline;">+</span> 258) mengemukakan bahwa Gereja Katolik mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, termasuk dosa kemurtadan (Ep. 55, 27).</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref9">[9]</a> Konsili Trente, Session XIV, <em>Doctrine on the Sacrament of Penance</em>, 893a-898. Paragraf 896 menjelaskan tentang “matter” dari sakramen ini, yang terdiri dari: contrition, confession, satisfaction. Dan kemudian “form” dari sacramen ini adalah kata-kata absolusi atau pengampunan dari Pastor.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref10">[10]</a> <em>KGK</em>, 1422-1498</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/#_ednref11">[11]</a> Cardinal Newman, dalam bukunya “The Development of Christian Doctrines”, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajarannya dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan merubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh kardinal Newmann dalam Gereja Katolik, sehingga untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, dia berpindah dari Anglikan ke Gereja Katolik.</p>
<br />Posted in Indulgensi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tueresmidios.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tueresmidios.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tueresmidios.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tueresmidios.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tueresmidios.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tueresmidios.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tueresmidios.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tueresmidios.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tueresmidios.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tueresmidios.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tueresmidios.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tueresmidios.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tueresmidios.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tueresmidios.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=229&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/21/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3324c40296b6db4161334ffa3ee9615b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tueresmidios</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/12/pengakuan-dosa-2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pengakuan-dosa-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TANDA SALIB</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/08/tanda-salib/</link>
		<comments>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/08/tanda-salib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 13:08:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tueresmidios</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tueresmidios.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Makna Tanda Salib Tanda salib ini mengandung arti yang sangat mendalam yaitu 1) kemanunggalan dari Allah Trinitas, 2) salib yang merupakan tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen, yang disebabkan oleh kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Jadi tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab (lih. Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4 dan 14:1), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=222&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Makna Tanda Salib</strong></p>
<p><a href="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/12/tanda-salib1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-224" title="Tanda salib" src="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/12/tanda-salib1.jpg?w=500" alt=""   /></a>Tanda salib ini mengandung arti yang sangat mendalam yaitu 1) kemanunggalan dari Allah Trinitas, 2) salib yang merupakan tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen, yang disebabkan oleh kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Jadi <strong>tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab<span id="more-222"></span></strong> (lih. Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4 dan 14:1), dan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Bahkan Rasul Paulus sendiri bermegah dengan pewartaan salib Kristus (Gal 6:14), sehingga wajarlah jika kita sebagai pengikut Kristus membawa makna tanda salib ini kemanapun kita berada.</p>
<p>Menurut sejarah, diketahui bahwa Tanda Salib memang merupakan tradisi jemaat awal, yang dimulai sekitar abad ke-2 berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, terutama Tertullian, yang dilanjutkan oleh St. Cyril dari Yerusalem, St. Ephrem dan St Yohanes Damaskus. Jadi walaupun kita tidak membaca ajaran mengenai tanda salib ini dilakukan oleh para rasul di dalam Alkitab, namun bukan berarti bahwa tanda salib ini tidak berdasarkan Alkitab.</p>
<p>Sebab, biar bagaimanapun, makna yang terkandung dalam pembuatan tanda salib ini terpusat pada Kristus, untuk mengingatkan para beriman akan keselamatan yang dapat diperoleh oleh jasa Kristus yang tersalib dan bangkit. Maka tanda salib ini bagi umat Kristen adalah tanda yang harus kita bawa kemanapun sebagai tanda yang mengingatkan kita kepada salib Kristus yang menyelamatkan kita. Tradisi ini serupa dengan tradisi bangsa Yahudi yang memakai “tefilin” yaitu semacam kotak hitam yang berisi naskah Alkitab, yang mereka ikatkan di dahi mereka, sebagai pelaksanaan dari perintah dalam kitab Ul 6:4-8: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu…” Tanda di dahi ini juga disebutkan di dalam kitab Yeh 9:4.</p>
<p><strong>Tanda Salib menurut Para Bapa Gereja</strong></p>
<p>Maka bagi umat Kristiani, tradisi membuat tanda salib ini sudah berakar sejak lama, bahkan dari Alkitab Perjanjian Lama, dan juga Perjanjian Baru, yaitu dari kitab Wahyu Why 7:3; 9:4; 14:1. Berakar dari ajaran Kitab Suci inilah, maka Para Bapa Gereja mengajar demikian:</p>
<p>1) <strong>Tertullian</strong> (abad 2) mengajarkan dalam De cor Mil, iii: “Dalam perjalanan kita dan pergerakan kita, pada saat kita masuk atau keluar, ….. pada saat berbaring ataupun duduk, apapun pekerjaan yang kita lakukan kita meanndai dahi kita dengan tanda salib.”</p>
<p>2) <strong>St. Cyril dari Yerusalem</strong> (315-386) dalam Catecheses (xiii, 36)  mengajarkan, “Maka, mari kita tidak merasa malu untuk menyatakan Yesus yang tersalib. Biarlah tanda salib menjadi meterai kita, yang dibuat dengan jari-jari kita, di atas dahi … atas makanan dan minuman kita, pada saat kita masuk ataupun keluar, sebelum tidur, ketika kita berbaring dan ketika bangun tidur ketika kita bepergian ataupun ketika kita beristirahat.”</p>
<p>3) <strong>St. Ephrem dari Syria</strong> (373) mengajarkan, “Tandailah seluruh kegiatanmu dengan tanda salib yang memberi kehidupan. Jangan keluar darin pintu rumahmu sampai kamu menandai dirimu dengan tanda salib. Jangan mengabaikan tanda ini, baik pada saat sebelum makan, minum, tidur, di rumah maupun di perjalanan. Tidak ada kebiasaan yang lebih baik daripada ini. Biarlah ini menjadi tembik yang melindungi segala perbuatanmu, dan ajarkanlah ini kepada anak-anakmu sehingga mereka dapat belajar menerapkan kebiasaan ini.”</p>
<p>4) <strong>St. Yohanes Damaskus</strong> (676-749) mengajarkan, “Tanda salib diberikan sebagai tanda di dahi kita, …. sebab dengan tanda ini kita umat yang percaya dibedakan dari mereka yang tidak percaya.”</p>
<p>Memang dalam hal cara membuat tanda salib itu terjadi perkembangan, karena pada awalnya tanda salib hanya dibuat di dahi saja, namun kemudian diajarkan juga untuk membuat tanda salib di mulut (St Jerome, Epitaph Paulae) dan di hati (Prudentius, Cathem., vi, 129). Tanda salib seperti yang kita kenal sekarang, yang secara jelas diajarkan oleh Paus Innocentius III (1198–1216), seperti demikian:</p>
<p><em>“The sign of the cross is made with three fingers, because the signing is done together with the invocation of the Trinity. … This is how it is done: from above to below, and from the right to the left, because Christ descended from the heavens to the earth, and from the Jews (right) He passed to the Gentiles (left). Others, however, make the sign of the cross from the left to the right, because from misery (left) we must cross over to glory (right), just as Christ crossed over from death to life, and from Hades to Paradise. [Some priests] do it this way so that they and the people will be signing themselves in the same way. You can easily verify this — picture the priest facing the people for the blessing — when we make the sign of the cross over the people, it is from left to right…</em>“</p>
<p><strong>Cara membuat tanda salib</strong></p>
<p>Memang terdapat beberapa cara untuk membuat tanda salib. Yang terpenting di sini adalah makna yang ingin disampaikannya, dan penghayatan orang yang membuat tanda salib ini. Maka cara yang mendetail sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, seperti apakah membuatnya dengan dua jari (jari penunjuk dan jari tengah, yang melambangkan dua kodrat Yesus, yaitu Allah dan manusia) atau tiga jari (yang melambangkan Trinitas), atau kelima jari (melambangkan kelima luka-luka Yesus di kayu salib). Atau arah salibnya ke kanan dulu baru kiri (seperti yang dilakukan Gereja-gereja Timur dan Orthodox) atau ke kiri dahulu baru ke kanan (seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik Roma).</p>
<p>Umumnya caranya adalah demikian:</p>
<p>Dengan dua atau tiga (atau lima jari) jari tangan kanan di dahi (sambil mngucapkan: “Atas nama Bapa”), tangan kemudian ke dada -melambangkan hati atau ke perut -menunjuk kepada luka Yesus di perut-Nya ataupun rahim di mana Yesus dikandung oleh Bunda Maria (sambil mengucapkan “dan Putera”, kemudian tangan menuju ke bahu kiri dan kanan (sambil mengucapkan “dan Roh Kudus” Amin). Dan tangan kembali terkatup.</p>
<p><strong>Kapan kita membuat tanda salib?</strong></p>
<p>1) Pada saat sebelum dan sesudah kita berdoa.</p>
<p>2) Ketika kita melewati setiap bangunan gereja Katolik, untuk menghormati kehadiran Tuhan Yesus di dalam tabernakel.</p>
<p>3) Ketika memasuki gereja (membuat tanda salib dengan air suci)</p>
<p>4) Saat-saat sedang menghadapi ketakutan ( misalnya: ketika kita mendengar sirine ambulans, mobil kebakaran) ataupun ketika menerima kabar duka cita orang yang meninggal.</p>
<p>5) Ketika kita melihat Salib Kristus, ataupun di saat- saat lain untuk menghormati Kristus, memohon pertolongan-Nya,</p>
<p>6) Ketika hendak mengusir godaan, ketakutan maupun mengusir pengaruh kuasa jahat.</p>
<p>7) Ketika ayah, sebagai imam dalam keluarga memberikati anak-anaknya, ia dapat menandai anak-anaknya dengan tanda salib di dahi mereka, misalnya sebelum anak-anak berangkat ke sekolah atau sebelum mereka tidur pada waktu malam hari.</p>
<p>Semoga kita dapat menghayati makna tanda salib ini, dan menjadikan tanda salib sebagai bagian dari hidup kita sendiri. Setiap kita membuat tanda salib kita mengingat dan menhormati Kristus yang oleh kasih-Nya rela menyerahkan hidup-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Semoga kita dapat berkata bersama dengan Rasul Paulus, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14)</p>
<p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br />
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tueresmidios.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tueresmidios.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tueresmidios.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tueresmidios.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tueresmidios.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tueresmidios.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tueresmidios.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tueresmidios.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tueresmidios.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tueresmidios.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tueresmidios.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tueresmidios.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tueresmidios.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tueresmidios.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=222&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/08/tanda-salib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3324c40296b6db4161334ffa3ee9615b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tueresmidios</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/12/tanda-salib1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tanda salib</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ?</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/03/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/</link>
		<comments>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/03/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 23:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tueresmidios</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indulgensi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengampunan Dosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tueresmidios.wordpress.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Berapa sering kita mendengar saudara kita dari agama Kristen lain yang mengatakan bahwa “Pengakuan dosa adalah cuma karangan Gereja Katolik saja. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan pengampunan, bukan pastor. Jadi sudah seharusnya kita langsung mengaku dosa langsung kepada Yesus, dan tidak perlu mengakukan dosa di hadapan pastor. Memangnya Kitab Suci mengajarkan pengakuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=217&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Pendahuluan</h2>
<p><a href="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/12/pengakuan-dosa-51.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-219" title="pengakuan-dosa-5" src="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/12/pengakuan-dosa-51.jpg?w=120&#038;h=150" alt="" width="120" height="150" /></a>Berapa sering kita mendengar saudara kita dari agama Kristen lain yang mengatakan bahwa “Pengakuan dosa adalah cuma karangan Gereja Katolik saja. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan pengampunan, bukan pastor. Jadi sudah seharusnya kita langsung mengaku dosa langsung kepada Yesus, dan tidak perlu mengakukan dosa di hadapan pastor. <span id="more-217"></span>Memangnya Kitab Suci mengajarkan pengakuan dosa? Ah, pastor <em>khan</em> cuma orang biasa, kenapa kita musti mengaku dosa di depan pastor?”</p>
<p>Kemudian ada komentar-komentar dari orang Katolik yang mengatakan “Setelah kita mengaku dosa, kita juga berdosa lagi, jadi pengakuan dosa tidak ada gunanya… Saya malu, karena saya kenal sama pastornya. Bagaimana kalau pastornya sampai membocorkan rahasia pengakuan dosa saya?” Kemudian ada lagi yang mengatakan bahwa pengakuan dosa hanya urusan satu kali dalam satu tahun.</p>
<p>Mari kita lihat satu persatu keberatan tersebut di atas berdasarkan Alkitab, Bapa Gereja, dari pengajaran Gereja, dan juga perkembangan Sakramen Pengakuan Dosa. Pada bagian pertama ini, kita akan menelaah terlebih dahulu tentang <strong><span style="text-decoration:underline;">apa sebenarnya hakekat dari </span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">dosa</span></strong>, sehingga kita akan secara lebih jelas menghayati bahwa Sakramen Pengakuan Dosa sungguh merupakan berkat dari Tuhan untuk membantu kita bertumbuh dalam kekudusan.</p>
<h4>Apakah ‘dosa’ itu?</h4>
<p>Ada begitu banyak definisi tentang dosa. Namun, secara prinsip, dosa dapat dikatakan sebagai suatu keputusan<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn1">[1]</a> dari pilihan<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn2">[2]</a> untuk menempatkan apa yang kita pandang lebih utama, lebih baik atau menyenangkan daripada hukum Tuhan<strong> </strong>(1 Yoh 3:4; Rom 4:1<strong>). Pada saat seseorang menempatkan ciptaan lebih tinggi daripada Penciptanya, maka orang tersebut melakukan </strong><strong>dosa</strong> (St. Bonaventura).</p>
<p>Katekismus Gereja Katolik (KGK) mendefinisikan bahwa dosa adalah melawan Tuhan<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn3">[3]</a>, namun secara bersamaan <strong>melawan akal budi</strong>, <strong>kebenaran</strong>, dan <strong>hati nurani yang benar</strong>.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn4">[4]</a> Sebagai contoh, mari kita melihat dosa menggugurkan kandungan atau aborsi. Di Amerika, setiap 30 detik, ada satu bayi yang digugurkan. Namun, tetap saja ada beberapa negara bagian di Amerika yang melegalisir warganya untuk menggugurkan kandungan.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Dosa</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"> adalah melawan akal budi</span></strong>, karena hanya orang yang dapat menggunakan akal budi bertanggung jawab terhadap dosanya. Itulah sebabnya bahwa Sakramen Pengampunan dosa hanya dapat diterimakan kepada orang yang telah dibaptis dan mencapai usia yang dapat berfikir rasional.</p>
<p>Dengan akal budi, seharusnya kita memilih tujuan yang paling akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan, namun kita sering dikaburkan dengan oleh pengaruh dunia ini, sehingga akal budi kita lebih banyak dipengaruhi dan didominasi oleh kedagingan atau “<em>sense appetite</em>“.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn5">[5]</a> St. Paulus mengatakan pemberontakan keinginan daging melawan keinginan roh (lih. Gal 5:16-17,24; Ef 2:3). Secara nalar, kita dapat melihat bahwa menggugurkan kandungan adalah melawan akal budi, karena tidak seharusnya manusia membunuh sesamanya, apalagi anaknya sendiri.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Dosa</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"> adalah melawan kebenaran</span></strong>, karena kebenaran hanya ada pada Tuhan. Namun sering kita menganggap kejadian di dunia ini semuanya relatif, atau ibaratnya, tidak putih, tidak hitam, melainkan abu-abu. Karena kecendungan faham relativitas, maka kita tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Karena beberapa negara bagian di Amerika melegalisir pengguguran kandungan, banyak orang yang mungkin beranggapan bahwa hal ini adalah sesuatu yang wajar, yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun kebenaran tidak berpihak kepada mayoritas, yang sering berganti-ganti dari waktu ke waktu. <strong>Kebenaran adalah tetap dan tidak berubah, dan kebenaran sejati hanya dapat ditemukan dalam diri Yesus, karena Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup</strong> (Yoh 14:6).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Dosa</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"> melawan hati nurani yang benar</span></strong>. Hati nurani yang benar ditekankan oleh KGK, karena jaman sekarang ini, begitu sulit untuk membentuk hati nurani yang benar. Kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita mau berlaku jujur di dalam bisnis, kita dinasehati “jangan sok jujur”. Kalau di sekolah kita tidak mau nakal dan menyontek, kita akan dibilang “sok alim.” Seolah-olah sesuatu yang seharusnya benar, tidak boleh dipraktekkan. Dengan mentolelir kesalahan-kesalan kecil, maka hati nurani kita yang awalnya benar, yang diciptakan menurut gambaran Allah, menjadi tertutup dengan dosa, sehingga tidak murni lagi. Di sinilah pentingnya kebenaran yang diwartakan oleh Kristus melalui Gereja-Nya, sehingga Gereja dapat menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran (lih 1 Tim 3:15) yang menuntun hati nurani umat-Nya. Seperti yang dilakukan Gereja Katolik di Amerika, mereka berperan aktif untuk menyuarakan kebenaran atau membangkitkan hati nurani yang benar dengan berjuang untuk menghentikan legalisasi aborsi.</p>
<h4>Apakah bobot dosa berbeda-beda?</h4>
<p>Dalam beberapa kesempatan, saya mendengarkan kotbah, ada yang mengatakan bahwa semua dosa adalah sama. Dosa kecil maupun besar menyedihkan hati Tuhan. Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa <span style="text-decoration:underline;">semua dosa adalah sama</span>, yaitu dosa berat, dengan upahnya adalah maut, jadi tidak ada istilah dosa ringan (Why 20:14-15; Eze 18:4; Rom 6:23). Jadi ajaran Gereja Katolik yang mengatakan bahwa dosa dibagi menjadi dua: dosa berat dan dosa ringan, dan juga bahwa dosa berat hanya dapat dilepaskan melalui Sakramen Pengakuan Dosa adalah sangat tidak mendasar.</p>
<p>Memang semua dosa menyedihkan hati Tuhan, namun Alkitab juga mengatakan bahwa ada dosa yang berat yang mendatangkan maut dan ada dosa ringan yang tidak mendatangkan maut (Lih 1 Yoh 5:16-17). Kita bisa melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita akan dapat membedakan tingkatan dosa. Misalkan, dosa membunuh dan dosa ketiduran sewaktu berdoa. Tentu, kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa yang lebih berat daripada ketiduran saat berdoa yang disebabkan oleh tidak-disiplinan dalam meluangkan waktu untuk berdoa.</p>
<p>Dengan dasar inilah, Gereja Katolik mengenal dua macam dosa, yaitu: (1) <span style="text-decoration:underline;">Dosa</span><span style="text-decoration:underline;"> berat</span> atau “<em>mortal sin</em>“<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn6">[6]</a> dan (2) <span style="text-decoration:underline;">Dosa</span><span style="text-decoration:underline;"> ringan</span> atau “<em>venial sin</em>“<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn7">[7]</a>.</p>
<p>Kalau dosa berat adalah melawan kasih secara langsung, maka dosa ringan memperlemah kasih. Jadi dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin Tuhan dapat bertahta di dalam hati manusia. Dosa berat atau ringan tergantung dari sampai seberapa jauh dosa membuat seseorang menyimpang dari tujuan akhir, yaitu Tuhan. Dan persatuan dengan Tuhan hanya dimungkinkan melalui kasih. Jika dosa tertentu membuat seseorang menyimpang terlalu jauh sampai mengaburkan dan berbelok dari tujuan akhir, maka itu adalah dosa berat.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn8">[8]</a> Lebih lanjut dalam tulisannya “<em>Commentary on the Sentence</em> <em>I,I,3</em>“, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa dosa ringan tidak membuat seseorang berpaling dari tujuan akhir atau Tuhan. Digambarkan sebagai seseorang yang berkeliaran, namun tetap menuju tujuan akhir.</p>
<p>Untuk seseorang melakukan dosa berat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: (1) Menyangkut kategori dosa yang tidak ringan, (2) tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan (3) walaupun tahu itu salah, secara sadar memilih melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain <strong>seseorang menempatkan dan memilih dengan sadar keinginan atau kesenangan pribadi di atas hukum Tuhan</strong>.</p>
<h4>Apakah efek dari dosa?</h4>
<p>Kita melihat bahwa dosa menghancurkan relasi kita dengan Tuhan, yaitu dengan menghancurkan prinsip vital kehidupan kita, yaitu kasih. Seperti 10 perintah Allah, dibagi menjadi dua, yaitu kasih kepada Tuhan dalam perintah 1-3, dan kasih kepada sesama dalam perintah 4-10, maka dosa juga mempunyai dua efek, yaitu: efek vertikal dan efek horisontal. Efek vertikal mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sedangkan efek horisontal mempengaruhi hubungan kita dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa <strong>tidak ada </strong><strong>dosa</strong><strong> yang bersifat pribadi</strong>. Semua dosa kalau kita telusuri akan mempunyai dimensi sosial. Kita lihat saja dari hal yang sederhana, misalkan seorang ayah yang sering marah-marah di rumah akan mempengaruhi seluruh anggota di rumahnya, menyebabkan istri dan anak-anak ketakutan. Yang lebih parah, anak-anak pun dapat tumbuh sebagai pemarah.</p>
<p>Atau contoh yang lain, yaitu dosa manusia pertama, menghasilkan dosa asal, yang menyebabkan terputusnya persatuan antara manusia dengan Tuhan, dan pada saat yang sama membawa dosa asal bagi seluruh umat manusia (Rom 5:12). Sebagai akibat dari dosa Adam (Kej 3:1-6), manusia kehilangan (1) rahmat kekudusan, dan (2) empat berkat “<em>preternatural</em>“, yang terdiri dari a) keabadian atau “<em>immortality</em>“, b) tidak adanya penderitaan, c) pengetahuan akan Tuhan atau “<em>infused knowledge</em>“, dan d) berkat keutuhan (<em>integrity</em>), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (<em>sense appetite</em>) kepada akal budi (<em>reason</em>). Karena kehilangan berkat-berkat tersebut, maka manusia mempunyai <em>concupiscense</em><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn9">[9]</a> atau “<em>the tinder of sin</em>“<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn10">[10]</a>, atau kecenderungan untuk berbuat dosa<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn11">[11]</a>, di mana manusia harus berjuang terus untuk menundukkan keinginan daging. St. Paulus menyebutnya sebagai nafsu kedagingan yang berlawanan dengan keinginan Roh (Lih Gal 5:16-17, Gal 5:24; Ef 2:3). Manusia tidak dapat melawan semuanya ini tanpa berkat dari Tuhan yang memampukan manusia untuk “berkata tidak” terhadap dosa. Karena dosa pertama dari Adam adalah dosa kesombongan, maka kerendahan hati adalah penawar dari dosa yang memampukan manusia untuk menerima berkat dari Tuhan secara berlimpah. Mari sekarang kita melihat secara lebih jelas proses perkembangan dari dosa.</p>
<h4>Bagaimana proses Dosa berkembang?</h4>
<p>Pernah saya tidak mengindahkan sakit gigi, karena kadang muncul dan kadang hilang. Namun lama-kelamaan sakitnya bertambah parah, sehingga harus dilakukan operasi. Nah, proses dari dosa sama seperti contoh di atas, mulai dari hal kecil, dipupuk terus-menerus sehingga menjadi besar dan sulit diatasi. Mari kita melihat perkembangan dari dosa:<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn12">[12]</a></p>
<ol>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Tahap      1</span></strong>: Pikiran tentang dosa datang dalam pikiran. Ini bukan dosa,      tetapi suatu godaan. Pada tahap ini, penolakan terhadap dosa akan menjadi lebih mudah kalau kita membuang      jauh-jauh pemikiran tersebut dengan cara mengalihkannya kepada hal-hal      lain, seperti: berdoa, atau pemikiran tentang neraka, dll.</li>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Tahap      2</span></strong>: Kalau pikiran dosa (godaan) ini tidak segera dibuang      jauh-jauh, maka akan menjadi dosa ringan (<em>venial      sin</em>). Ini adalah seperti menguyah-nguyah dosa di dalam pikiran. Sama      seperti telur yang dierami, yang pada waktunya akan menetas, maka dosa      yang terus dituruti di dalam pikiran, hanya menunggu waktu untuk      membuahkan dosa (lih Yak 1:15).</li>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Tahap      3</span></strong>: Tahap ini adalah perkembangan dari pemikiran dosa yang      didiamkan atau dinikmati oleh pikiran, kemudian akan membuahkan keinginan      untuk berbuat dosa. Di sini bukan hanya      pikiran, namun godaan sudah sampai di hati (<em>the will</em>). Yesus      mengatakan bahwa orang yang mempunyai keinginan untuk berbuat dosa, sudah      berbuat dosa (Mat 5:28).</li>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Tahap      4</span></strong>: Akhirnya dalam tahap ini, seseorang memutuskan untuk      berbuat dosa. Pada tahap ini keinginan untuk berbuat dosa sudah menjadi      keputusan untuk berbuat dosa namun masih merupakan dosa yang ada di dalam hati. Ini      adalah sama seperti seseorang yang ditawarkan suatu jabatan dengan cara      korupsi. Dia mempunyai tiga pilihan: menolak, bernegosiasi, atau      mengiyakan. Tahap ini keinginan dan pikiran saling mempengaruhi, namun      akhirnya membuahkan kemenangan bagi setan, sehingga seseorang memutuskan      untuk berbuat dosa.</li>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Tahap      5</span></strong>: Pada saat kesempatan untuk berbuat dosa muncul, maka      keputusan untuk berbuat dosa yang ada di dalam hati menjadi suatu tindakan      nyata. Setelah keputusan untuk berbuat dosa dalam keinginan menjadi      kenyataan, maka jiwa seseorang juga telah jatuh ke dalam dosa. Sama seperti air yang menjadi es dan      memerlukan panas untuk mencairkannya, maka seseorang masih tetap dalam kondisi berdosa sampai dia bertobat.</li>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Tahap      6</span></strong>: Perbuatan dosa yang sering diulang akan menjadi kebiasaan      berbuat dosa (<em>habit of sin</em>) atau      kebiasaan jahat (<em>vice</em>). Dengan pengulangan perbuatan dosa, maka ada suatu tahap kefasihan untuk      berbuat jahat dan keinginan hati sudah mempunyai kecenderungan untuk      berbuat jahat. Bapa Gereja menghubungkan bahwa tiga kali Yesus      membangkitkan orang mati melambangkan Yesus membangkitkan manusia dari <strong>dosa</strong><strong> di dalam hati</strong>, <strong>dosa</strong><strong> yang dinyatakan dalam      perbuatan</strong>, dan <strong>dosa</strong><strong> yang sudah menjadi kebiasaan</strong>. Yesus membangkitkan anak perempuan      Yairus (Luk 8:49-56) di dalam rumahnya yang melambangkan kebangkitan dari dosa yang masih di      dalam hati. Sedangkan kebangkitan anak janda di pintu gerbang (Luk      7:11-16) melambangkan kebangkitan dari dosa yang telah dinyatakan dalam      perbuatan. Akhirnya, kebangkitan Lazarus yang telah dikubur (Yoh 11:3-43),      melambangkan kebangkitan dari dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Untuk      membangkitkan Lazarus, Yesus menangis, menyuruh seseorang membuka batu      kubur, berseru dengan suara keras, meminta orang untuk membuka kain      penutup, dan membiarkan dia pergi. Ini menunjukkan bahwa begitu sulit      untuk menghancurkan dan memutuskan ikatan dosa      yang sudah menjadi kebiasaan.</li>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Tahap      7</span></strong>: Perbuatan dosa dan kebisaan untuk berbuat dosa akan      disusul dengan dosa yang lain. Karena rahmat Tuhan tidak dapat bertahta      lagi dalam hati orang ini dan seseorang tidak dapat melawan dosa tanpa      rahmat Tuhan, maka orang ini tidak mempunyai kekuatan untuk keluar dari      dosa dan malah berbuat dosa yang lain. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan      mengeraskan hati Firaun untuk menggambarkan akan kebiasaan berbuat dosa,      yang menjadikan Firaun berbuat dosa yang      lain secara terus-menerus (Kel 9:12). Rasul Paulus menyatakan bahwa Allah      menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka      melakukan apa yang tidak pantas, karena mereka tidak merasa perlu untuk      mengakui Allah (Rom 1:28).</li>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Tahap      8</span></strong>: Pada saat kejahatan benar-benar berakar dalam jiwa      seseorang, maka seseorang akan melakukan dosa yang benar-benar jahat      sampai pada titik membenci Tuhan. Dengan sadar dan segenap hati dia akan      melawan dan menghujat Roh Kudus, dimana merupakan dosa      yang tidak terampuni (Mrk 3:29).</li>
</ol>
<p>Dari tahapan perkembangan dosa, kita akan melihat bahwa dosa adalah sesuatu yang serius, yang kalau kita memandangnya sambil lalu, kita akan terjerumus perlahan-lahan dan jatuh ke dalam jurang kehancuran untuk selamanya. Permasalahannya, pada jaman sekarang ini, kesadaran, kepekaan akan perbuatan dosa dan resikonya semakin lama semakin memudar, sehingga dengan gampangnya seseorang berbuat dosa. Mari sekarang kita perbandingkan antara sesuatu yang bersifat jasmani dan yang rohani.</p>
<h4>Jadi apakah Sakramen Pengakuan Dosa?</h4>
<p>Selama tinggal di Amerika, saya melihat bahwa orang Amerika begitu memperhatikan kesehatan jasmani. Mereka berdiet, berolahraga secara teratur. Bahkan yang sudah tuapun tidak mau ketinggalan, mereka aktif berolahraga dengan berenang, jalan kaki, dll. Semuanya dilakukan dengan teratur, demi satu tujuan, yaitu agar badan mereka sehat, mungkin ada yang mempunyai tujuan lain agar bentuk lahiriah mereka lebih indah. Data di Amerika menunjukkan bahwa mereka menggunakan 6% dari uang mereka untuk kesehatan jasmani, seperti olahraga, ikut fitness club, dll.<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn13">[13]</a> Saya tidak tahu data di Indonesia, namun mungkin datanya hampir sama dengan di Amerika, bahwa begitu banyak orang menggunakan uangnya untuk kesehatan jasmani.</p>
<p>Semua orang begitu peka terhadap kesehatan jasmani dan keindahan tubuh. Namun pertanyaannya adalah mengapa terhadap kesehatan rohani, kita sering kurang peka bahkan kadang kita sering mengacuhkannya? Mungkin kita akan lebih peka terhadap sesuatu yang dapat kita raba dan lihat. Namun kalau kita pikir, kesehatan rohani jauh lebih penting daripada kesehatan jasmani. Ini dapat dibuktikan bahwa Yesus datang ke dunia ini bukan untuk menyembuhkan semua penyakit jasmani, namun Dia datang untuk menyembuhkan penyakit rohani, yaitu dosa.</p>
<p><strong>Nah, </strong><strong>dosa</strong><strong> adalah suatu penyakit yang begitu berbahaya. Salah satu penyembuhannya adalah dengan menerima </strong><strong>sakramen</strong><strong> </strong><strong>pengakuan</strong><strong> </strong><strong>dosa</strong>. Di dalam Sakramen Pembaptisan, dosa asal dan seluruh dosa yang kita lakukan sebelum kita dibaptis dihapuskan. Namun sebagai manusia, kita dapat jatuh lagi ke dalam dosa setelah pembaptisan, bahkan kita dapat jatuh ke dalam dosa yang berat. <strong><span style="text-decoration:underline;">Dosa</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"> berat yang kita lakukan setelah Pembaptisan hanya dapat diampuni dengan menerima </span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;">Sakramen</span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"> Tobat</span></strong><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn14">[14]</a> atau Sakramen Pengakuan Dosa<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn15">[15]</a>, atau Sakramen Pengampunan Dosa<a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_edn16">[16]</a>. Di dalam Sakramen inilah, kita juga bertemu dengan dokter dari segala dokter, yaitu Yesus sendiri yang hadir di dalam diri imam/pastor. Untuk bertemu dengan Yesus di dalam Sakramen Pengampunan, diperlukan kerendahan hati dan penyesalan, sehingga Yesus sendiri akan memulihkan dan menyembuhkan hati kita.</p>
<p>Namun demikian, masih banyak orang yang meragukan tentang Sakramen Tobat yang dapat memberikan kesehatan rohani bagi kita. Silakan membaca <a href="http://katolisitas.org/?p=222">bagian-2</a>, yaitu jawaban terhadap keberatan-keberatan tentang Sakramen ini ditinjau dari Alkitab, Bapa Gereja, dan penerapan sakramen ini dalam sejarah Gereja.</p>
<hr size="1" /><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref1">[1]</a> Disebut suatu keputusan, karena dosa adalah suatu keputusan yang diambil oleh keinginan atau “<em>the will</em>“. Pikiran dapat saja membayangkan atau mempengaruhi “<em>the will</em>” untuk berbuat dosa. Namun kalau pada akhirnya seseorang mengambil keputusan untuk tidak menuruti pikiran tersebut, maka orang tersebut tidak berbuat dosa.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref2">[2]</a> Dosa adalah suatu pilihan, karena kita mempunyai kehendak bebas atau “<em>free will</em>” untuk memutuskan apakan kita memilih berdosa atau tidak.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref3">[3]</a> Gereja Katolik , <em>Katekismus Gereja Katolik</em>, Edisi Indonesia., 1850.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref4">[4]</a> Ibid., 1849.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref5">[5]</a> Sebelum dosa asal, <em>sense appetite</em> atau keinginan daging tunduk sepenuhnya pada akal budi. Namun setelah dosa asal, semua orang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa, atau yang disebut <em>concupiscence</em> (lih KGK, 2515).</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref6">[6]</a> Ibid., 1856.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref7">[7]</a> Ibid., 1863.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref8">[8]</a> St. Thomas Aquinas, <em>The Summa Theologica of St. Thomas Aquinas</em> (Christian Classics, 1981), II-I, q.72, a.5</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref9">[9]</a> <em>KGK</em>, 2515.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref10">[10]</a> Ibid., 1264.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref11">[11]</a> Jacques Dupuis, <em>The Christian Faith: In the Doctrinal Documents of the Catholic Church</em>, 7th ed. (New York: Alba House, 2001), 512, p.203.; <em>KGK</em>, 405.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref12">[12]</a> Francis Spirago, <em>The Catechism Explained: An Exhaustive Explanation of the Catholic Religion</em> (Tan Books &amp; Publishers, 1994), p. 451-454</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref13">[13]</a> Lihat data dari <a href="http://www.nytimes.com/interactive/2008/05/03/business/20080403_SPENDING_GRAPHIC.html">The New York Times</a>.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref14">[14]</a> <em>KGK</em>, 1423.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref15">[15]</a> Ibid., 1424.</p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/#_ednref16">[16]</a> Ibid.</p>
<p>Diambil dari : http://katolisitas.org/</p>
<p>Ditulis oleh <a title="Posts by Stefanus Tay" href="http://katolisitas.org/author/stef/">Stefanus Tay</a> on Aug 14th, 2008</p>
<br />Posted in Indulgensi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tueresmidios.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tueresmidios.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tueresmidios.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tueresmidios.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tueresmidios.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tueresmidios.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tueresmidios.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tueresmidios.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tueresmidios.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tueresmidios.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tueresmidios.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tueresmidios.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tueresmidios.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tueresmidios.wordpress.com/217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=217&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/03/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3324c40296b6db4161334ffa3ee9615b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tueresmidios</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/12/pengakuan-dosa-51.jpg?w=120" medium="image">
			<media:title type="html">pengakuan-dosa-5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAHWA KITA HARUS MENGORBANKAN DIRI KITA DAN SEGALA MILIK KITA KEPADA ALLAH DAN BERDOA UNTUK SEKALIAN ORANG</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/03/bahwa-kita-harus-mengorbankan-diri-kita-dan-segala-milik-kita-kepada-allah-dan-berdoa-untuk-sekalian-orang/</link>
		<comments>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/03/bahwa-kita-harus-mengorbankan-diri-kita-dan-segala-milik-kita-kepada-allah-dan-berdoa-untuk-sekalian-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 23:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tueresmidios</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thomas a Kempis]]></category>
		<category><![CDATA[Sakramen yang Mahakudus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tueresmidios.wordpress.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Murid Berkata: 1. Tuhan, segala sesuatu yang ada di langit dan di atas bumi, itulah milikMu. Aku ingin mempersembahkan diriku sendiri kepadaMu sebagai korban yang ikhlas dan ingin pulalah aku untuk selama-lamanya menjadi milikMu. Tuhan dengan hati yang bersahaja sekarang aku mengorbankan diriku sendiri sebagai hambaMu untuk selamanya, supaya Engkau hendaklah berkenan dan supaya aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=214&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Murid Berkata:</p>
<p>1. Tuhan, segala sesuatu yang ada di langit dan di atas bumi, itulah milikMu.</p>
<p>Aku ingin mempersembahkan diriku sendiri kepadaMu sebagai korban yang ikhlas dan ingin pulalah aku untuk selama-lamanya menjadi milikMu.<span id="more-214"></span></p>
<p>Tuhan dengan hati yang bersahaja sekarang aku mengorbankan diriku sendiri sebagai hambaMu untuk selamanya, supaya Engkau hendaklah berkenan dan supaya aku menjadi korban untuk memuliakan Dikau untuk selamanya.</p>
<p>Berkenanlah menerima aku bersama dengan korban kudus TubuhMu yang mulia, yang hari ini kupersembahkan di tengah-tengah para malaekat yang hadlir dengan tidak kelihatan, agar supaya dapatlah berguna bagi keselamatanku dan segenap umatMu.</p>
<p>2. Tuhan, di atas altar silihMu, aku letakkan segala dosaku dan pelanggaran-pelanggaran yang telah kulakukan di hadapanMu dan di hadapan para malaekatMu yang kudus, mulai saat aku dapat berbuat dosa hingga saat sekarang ini, agar supaya Engkau sudi kiranya membakar itu semua dan menghancurkannya dengan api cintakasihMu.</p>
<p>Hendaklah sudi kiranya menghapus segala kotoran dosaku, menyucikan suara kalbu daripada segala kesalahan dan hendaklah mengembalikan rahmat yang telah hilang dari padaku karena dosa-dosaku, dengan memberi ampun atas segala dosaku dan menjunjung aku kepadaMu dengan kasih mesra dan agar aku dapat memperoleh damaiMu.</p>
<p>3. Apakah gerangan yang dapat kulakukan untuk pengampunan dosaku, selain daripada mengaku dengan rendah hati dan menyesalinya, dan tiada henti-hentinya mohon kemurahan hatimu.</p>
<p>Dengarkanlah aku yang kini berdiri di hadapanMu, ya Tuhan.</p>
<p>Segala dosaku sangatlah kusesalkan; aku tidak mau berbuat lagi; melainkan kusesalkan dan tetaplah akan kusesalkan selama aku masih hidup; aku sanggup berbuat tapa dan sesuai dengan kemampuanku, aku sanggup pula memberi silih.</p>
<p>Ampunilah, ya Allah, ampunilah dosa-dosaku demi NamaMu yang kudus; tolonglah jiwaku yang telah Engkau tebus dengan DarahMu yang sangat mulia.</p>
<p>Lihatlah, aku serahkan diriku kepada rahimMu; aku serahkan diriku kepadaMu.</p>
<p>Perlakukanlah aku menurut kebaikanMu, bukan setimpal dengan kejahatan dan kedurhakaanku.</p>
<p>4. KepadaMu juga kuserahkan segala yang baik, meskipun tidak banyak jumlahnya dan tidak sempurna adanya, agar supaya Engkau memperbaiki dan menyucikannya.</p>
<p>Sudilah kiranya menerimanya dan hendaklah dibuat berkenan kepadaMu; arahkanlah segalanya itu kepada kebaikan dan bawalah aku, orang yang malas dan tiada berguna, kepada saat akhir yang bahagia dan terpuji.</p>
<p>5. Juga segala keinginan yang baik dari umat yang bertakwa, kupersembahkan kepadaMu; begitu pula kesukaran-kesukaran orang tuaku, sahabat-sahabatku, saudara-saudara lelaki dan perempuan, dan sekalian yang kukasihi, pun pula kesukaran-kesukaran mereka yang telah berbuat baik kepadaku, ataupun orang lain demi NamaMu; juga kesukaran-kesukaran mereka yang telah mengharapkan dan minta doaku untuk dirinya sendiri, ataupun untuk orang lain, atau supaya aku mempersembahkan misa, baik bagi mereka yang masih hidup, maupun bagi mereka yang sudah meninggalkan dunia ini, agar mereka sekalian memperoleh pertolongan rahmatMu, kekuatan dari penghiburanMu, perlindungan dalam bahaya dan pembebasan dari hukuman-hukuman, dan akhirnya setelah dibebaskan daripada segala kejahatan dengan gembira mengucap syukur kepadaMu.</p>
<p>6. Kemudian aku mempersembahkan kepadaMu doa-doa korban-korban perdamaian, lebih-lebih bagi mereka yang dengan jalan apapun juga telah pernah menistai, menyusahkan, atau memfitnah aku, ataupun telah merugikan atau menyakitkan hatiku; lagi pula bagi mereka yang telah pernah kubuat bersedih hati, kukacaukan pikirannya, telah pernah kupersukar, atau telah tersinggung olehku, baik dengan perkataan, maupun dengan perbuatan, baik dengan pengetahuan, maupun di luar pengetahuanku; supaya Engkau berkenan memberi ampun kepada kami sekalian, serta segala dosa-dosa kami dan kesalahan kami yang satu terhadap yang lain.</p>
<p>Ambillah daripada kami segala rasa curiga, ya Tuhan, segala rasa murka, amarah dan sifat pertengkaran, dan segala sesuatu yang dapat melanggar cintakasih akan Allah dan mengurangkan cintakasih akan sesama manusia.</p>
<p>Kasihanilah, ya Tuhan, kasihanilah kami yang mohon rahimMu; berilah rahmatMu kepada kami, orang yang papa; dan berilah, agar kami dapat hidup yang pantas, hingga patut menikmati anugerahMu dan kemudian dapat mencapai hidup kekal. Amin.</p>
<br />Posted in Thomas a Kempis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tueresmidios.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tueresmidios.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tueresmidios.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tueresmidios.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tueresmidios.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tueresmidios.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tueresmidios.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tueresmidios.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tueresmidios.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tueresmidios.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tueresmidios.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tueresmidios.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tueresmidios.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tueresmidios.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=214&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/12/03/bahwa-kita-harus-mengorbankan-diri-kita-dan-segala-milik-kita-kepada-allah-dan-berdoa-untuk-sekalian-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3324c40296b6db4161334ffa3ee9615b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tueresmidios</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indulgensi, harta kekayaan Gereja</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/25/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/</link>
		<comments>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/25/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:28:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tueresmidios</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indulgensi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengampunan Dosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tueresmidios.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Membersihkan lantai yang kotor Pada waktu saya masih SD, saya sering bermain-main bersama-sama dengan teman-teman satu kampung. Karena saya tinggal di sebuah dusun yang kecil, maka permainan dengan teman-teman juga permainan dusun, yang notabene adalah permainan yang melibatkan permainan fisik, yang seringkali diakhiri dengan kaki, tangan, dan badan yang penuh lumpur. Suatu hari, dengan kaki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=210&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Membersihkan lantai yang kotor</h2>
<p><a href="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/11/pengakuan-dosa.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-211" title="pengakuan-dosa" src="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/11/pengakuan-dosa.jpg?w=150&#038;h=113" alt="" width="150" height="113" /></a>Pada waktu saya masih SD, saya sering bermain-main bersama-sama dengan teman-teman satu kampung. Karena saya tinggal di sebuah dusun yang kecil, maka permainan dengan teman-teman juga permainan <em>dusun</em>, yang notabene adalah permainan yang melibatkan permainan fisik, yang seringkali diakhiri dengan kaki, tangan, dan badan yang penuh lumpur.<span id="more-210"></span> Suatu hari, dengan kaki yang penuh lumpur saya pulang ke rumah. Tanpa saya tahu, sebenarnya mama saya baru saja mengepel lantai rumah. Ketika saya berjalan untuk menuju kamar mandi, saya tidak menyadari bahwa saya meninggalkan jejak lumpur di lantai. Ketika ketika mama memarahi saya, maka dengan perasaan menyesal, saya meminta maaf akan kekotoran yang diakibatkan oleh kecerobohan saya. Mama memaafkan saya, namun lumpur tetap meninggalkan noda di lantai yang baru saja dipel oleh mama. Akhirnya, mama menyuruh saya untuk mempertanggungjawabkan kesalahan saya dengan mengepel lantai yang kotor. Dari contoh sederhana ini, kita melihat bahwa akibat dari kesalahan yang saya perbuat, maka ada dua hal yang saya terima, yaitu: hukuman (siksa dosa) dan dosa (<em>guilt</em>)<sup>[<a title="Reverend Peter M.J. Stravinskas, Ph.D., S.T.L. Our Sunday Visitor’s Catholic Dictionary. Copyright © 1994, Our Sunday Visitor: Guilt (GIHLT): (From Anglo-Saxon gylt: sin or offense) The condition of an individual who has committed some moral wrong and is " href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#footnote_0_2193">1</a>]</sup> Dosa (kesalahan) saya telah dimaafkan oleh mama saya, namun saya tetap harus menanggung hukuman &#8211; dengan mengepel lantai yang kotor &#8211; akibat kesalahan yang saya lakukan.</p>
<h2>Dosa mempunyai konsekuensi ganda</h2>
<p>Gereja Katolik mengenal adanya dua tipe dosa, yaitu 1) dosa ringan dan 2) dosa berat. Karena kodrat dari dua tipe dosa tersebut berbeda, maka hukuman dari dua tipe dosa tersebut juga berbeda. Memang setiap dosa menyedihkan hati Tuhan, namun tidak semua dosa membawa konsekuensi hukuman maut (Lih 1 Yoh 5:16-17).<sup>[<a title="Pembahasan lengkap tentang topik ini silakan membaca artikel “Masih perlukah sakramen pengakuan dosa bagian 1″ - silakan klik" href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#footnote_1_2193">2</a>]</sup>. Kita bisa melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari, di mana dalam beberapa hal, kita dapat membedakan tingkatan dosa dengan cukup mudah. Berikut ini adalah beberapa perbedaaan antara dosa berat dan dosa ringan:</p>
<p>1)<strong> Secara nalar </strong>dosa berat dan dosa ringan berbeda, misalkan: mencubit lengan seseorang lebih ringan dosanya dibanding dengan memukul kepala seseorang dengan kayu. Tentu, kita mengetahui bahwa membunuh seseorang adalah dosa yang lebih berat daripada ketiduran saat berdoa yang disebabkan oleh tidak-disiplinan dalam meluangkan waktu untuk berdoa.</p>
<p>2)  <strong>Dari efek yang mempengaruhi tujuan akhir</strong>: dosa berat membuat seseorang berbelok dari tujuan akhir, sedang dosa ringan hanya membuat seseorang tidak terfokus pada tujuan akhir namun tidak sampai berbelok dari tujuan akhir. Atau dengan kata lain, dosa berat menghancurkan tatanan dan menghancurkan kasih, sedang dosa ringan memperlemah kasih.</p>
<p>3)<strong> Keseriusan (<em>gravity</em>) dari dosa</strong> yang membawa konsekuensi yang berbeda, dimana orang berdosa berat tanpa bertobat dapat masuk neraka, sedang dosa ringan membawa hukuman sementara, baik di dunia atau di Api Penyucian.</p>
<p>4)<strong> Cara pertobatan yang berbeda</strong>. Karena dosa berat menghancurkan tatanan untuk sampai ke tujuan akhir, maka hanya kekuatan Tuhan saja yang dapat membawa kembali orang ini ke tatanan yang baik, contohnya: bagi yang belum dibaptis melalui Sakramen Baptis, dan bagi yang telah dibaptis dapat melalui Sakramen Tobat. Sedang dosa ringan, karena tidak berbelok dari tujuan akhir, maka dapat diperbaiki dengan lebih mudah.</p>
<p>5)<strong> Obyek (<em>object</em>) dan kategori (<em>genus</em>)</strong> antara dosa berat dan dosa ringan berbeda. Dosa berat dimanifestasikan sebagi perlawanan terhadap Tuhan, seperti: hujatan, sumpah palsu, penyembahan berhala, kemurtadan, dan juga melawan hukum kasih terhadap sesama, seperti: membunuh, berzinah, dll. Sedang dosa ringan tidak secara langsung melawan kasih terhadap Tuhan dan sesama, yang mungkin dapat diwujudkan dalam: perkataan yang sia-sia, dll.</p>
<p>Kita melihat bahwa dosa ringan dan dosa berat mempunyai obyek, kategori dan cara penanganan yang berbeda. Oleh karena itu, efek atau akibat yang ditimbulkan juga berbeda. Dosa berat berakibat pada siksa dosa abadi di neraka, sedangkan dosa ringan membawa siksa dosa sementara di purgarorium (api penyucian).<sup>[<a title="Lihat KGK, 1031, 1472, 1861" href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#footnote_2_2193">3</a>]</sup> Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1472) mengatakan:</p>
<p>“<em>Supaya mengerti ajaran [yaitu: purgatorium] dan praktik Gereja ini, kita harus mengetahui bahwa dosa mempunyai </em><strong><em><span style="text-decoration:underline;">akibat ganda</span></em></strong><em>. </em><strong><em>Dosa berat</em></strong><em> merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi. Perampasan ini dinamakan “</em><strong><em>siksa dosa abadi</em></strong><em>“. Di lain pihak, setiap dosa, malahan </em><strong><em>dosa ringan</em></strong><em>, mengakibatkan satu hubungan berbahaya dengan makhluk, hal mana membutuhkan penyucian atau di dunia ini, atau sesudah kematian di dalam apa yang dinamakan </em><strong><em>purgatorium</em></strong><em> (</em><strong><em>api penyucian</em></strong><em>). Penyuciaan ini membebaskan dari apa yang orang namakan “</em><strong><em>siksa dosa sementara</em></strong><em>“. Kedua bentuk siksa ini tidak boleh dipandang sebagai semacam dendam yang Allah kenakan dari luar, tetapi sebagai sesuatu yang muncul dari kodrat dosa itu sendiri. Satu pertobatan yang lahir dari cinta yang bernyala-nyala, dapat mengakibatkan penyucian pendosa secara menyeluruh, sehingga tidak ada siksa dosa lagi yang harus dipikul</em>“. Banyak ayat-ayat di Alkitab yang mendukung adanya siksa dosa abadi (<em>eternal punishment</em>). Dalam kitab Daniel dikatakan “<em>Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal</em>“(Dan 12:2). Kita juga mengingat akan pengadilan terakhir, dimana yang tidak menerapkan hukum kasih akan dicampakkan ke dalam api yang kekal (Mt 25:41).</p>
<h2>Gereja Katolik percaya akan dimensi sosial dari rencana keselamatan Allah.</h2>
<p>Mungkin ada percaya bahwa keselamatan adalah urusan masing-masing pribadi dengan Tuhan. Namun, kalau kita melihat, ada dimensi sosial dari karya keselamatan Kristus. Rasul Paulus menegaskan tentang hal ini dalam beberapa suratnya. Rasul Paulus mengatakan “<em>Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.</em>“(Rm 15:1). Dan rasul Paulus menegaskan bahwa kita semua adalah kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. (Ef 2:19) Kalau di dalam keluarga kita ada yang menderita, maka seluruh keluarga akan bekerjasa untuk meringankan penderitaan anggota keluarga. Sebaliknya, kalau salah satu anggota keluarga ada yang sukses, maka seluruh anggota bergembira dan mengecap kebagiaan tersebut.</p>
<p>Persatuan kita di dalam keluarga Kristus yang diikat oleh kasih Kristus bersifat adi-kodrati (<em>supernatural</em>), dan persatuan ini tidak dapat dilenyapkan dengan apapun karena diikat oleh kasih Allah, yang dibayar dengan darah-Nya yang tertumpah di kayu salib. Rasul Paulus menegaskan “<em>38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.</em>” (Rm 8:38-39). Persatuan keluarga yang diikat dalam kasih Kristus adalah Gereja. Gereja Katolik mempercayai bahwa Gereja adalah Tubuh mistik Kristus (Ef 5:23). Sama seperti perkawinan kudus, yang mempunyai satu mempelai pria dan satu mempelai wanita, maka Kristus adalah Kepala dari satu Tubuh mistik Kristus. Satu Tubuh mistik Kristus ini terdiri dari tiga kondisi, yaitu: 1) Gereja yang sedang mengembara di dunia ini, 2) Gereja yang sedang menderita di Api Penyucian (Purgatorium), dan 3) Gereja yang jaya, di Sorga. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 954) mengatakan “<em>Tiga status Gereja</em>.</p>
<p>“<em>Hingga saatnya Tuhan datang dalam keagungan-Nya beserta semua malaikat, dan saatnya segala sesuatu takluk kepada-Nya sesudah maut dihancurkan, ada di antara para murid-Nya, yang masih <strong>mengembara</strong> di dunia, dan ada yang telah meninggal dan mengalami <strong>penyucian</strong>, ada pula yang <strong>menikmati kemuliaan</strong> sambil memandang ‘dengan jelas Allah Tritunggal sendiri sebagaimana ada-Nya’”. “Tetapi kita semua, kendati pada taraf dan dengan cara yang berbeda, saling berhubungan dalam cinta kasih yang sama terhadap Allah dan sesama, dan melambungkan madah pujian yang sama ke hadirat Allah kita. Sebab semua orang, yang menjadi milik Kristus dan didiami oleh Roh-Nya, berpadu menjadi satu Gereja dan saling erat berhubungan dalam Dia</em>” (LG 49).</p>
<p>Oleh karena tiga status Gereja (mengembara, dimurnikan, dimuliakan) diikat oleh kasih Kristus, sedangkan pengertian kasih adalah menginginkan yang baik terjadi pada orang yang dikasihi, maka semua status Gereja tersebut saling bekerja sama atas dasar kasih untuk bersatu dalam kesatuan abadi di Sorga, dan menjadi persembahan yang murni dan tak bercela. (lih. Ef 5:27). Kalau kita mengatakan bahwa kita yang berada di dunia ini tidak dapat berhubungan dengan orang-orang yang telah memasuki Sorga atau sebaliknya, maka sama saja dengan kita mengatakan bahwa tempat dan status memisahkan kita dari kasih Kristus, yang berarti bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh oleh rasul Paulus. Sebaliknya rasul Paulus mengatakan “<em>38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.</em>” (Rm 8:38-39)</p>
<p>Dari ayat ini, akan sangat sulit untuk membayangkan bahwa para kudus di Sorga berpangku tangan melihat begitu banyak penderitaan di dunia ini maupun di Api Penyucian, atau sebaliknya Gereja yang sedang mengembara di dunia ini hanya berpangku tangan melihat penderitaan anggota keluarga Gereja di Api Penyucian. Oleh karena itu, masing-masing status Gereja tidak hanya berpangku tangan, karena bertentangan dengan kasih. Yesus mengatakan “<em>Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.</em>” (Yoh 5:17) Dan di dalam Kitab Wahyu dikatakan “<em>Ketika</em><em> Ia</em><em> mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.</em>” (Why 5:8). Dari sini kita melihat bahwa Yesus tidak akan duduk diam di dalam Sorga. Para kudus juga tidak akan tinggal diam dan menikmati kebahagiaan Sorga tanpa secara aktif turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Oleh karena itu, masing-masing status Gereja saling membantu, dimana Gereja yang telah jaya di Sorga membantu Gereja yang menderita dan Gereja yang sedang mengembara. Sedangkan Gereja yang sedang mengembara di dunia dapat juga membantu Gereja yang sedang dimurnikan. Dan inilah yang disebut harta milik Gereja. Katekismus Gereja Katolik mengatakan:</p>
<p>KGK, 955 “<em>Persatuan mereka yang sedang dalam perjalanan dengan para saudara yang sudah beristirahat dalam damai Kristus, <strong>sama sekali tidak terputus</strong>. Bahkan menurut iman Gereja yang abadi <strong>diteguhkan karena saling berbagi harta rohani</strong>” (LG 49).</em>“</p>
<p>KGK, 974 “<em>Karena semua kaum beriman <strong>membentuk satu Tubuh saja</strong>, maka harta milik dari yang satu disampaikan kepada yang lain… Dengan demikian orang harus percaya… bahwa <strong>di dalam Gereja ada pemilikan bersama</strong>… Yang paling utama dari semua anggota Gereja adalah <strong>Kristus</strong>, karena Ia adalah Kepala… Jadi <strong>milik Kristus dibagi-bagikan kepada semua anggota, dan pembagian ini terjadi oleh Sakramen-Sakramen Gereja</strong>” (Tomas Aqu., symb. 10). “Kesatuan Roh, yang olehnya [Gereja] dibimbing, mengakibatkan bahwa apa yang telah ia terima, menjadi milik bersama semua orang” (Catech. R. 1, 10,24)</em>.”</p>
<h2>Gereja Katolik diberikan kekuasaan oleh Kristus untuk mengampuni dosa</h2>
<p>Bagaimana masing-masing status Gereja (mengembara, dimurnikan, dimuliakan) dapat saling membantu? Gereja yang telah dimuliakan, yang terdiri dari orang-orang kudus, dapat membantu dengan doa-doa mereka, karena doa orang yang benar adalah besar kuasanya (Yak 5:16). Sedangkan Gereja yang sedang mengembara di dunia ini dapat membantu anggota Gereja yang masih mengembara di dunia dan anggota yang sedang dimurnikan, sehingga dapat bersatu dengan Gereja yang telah dimuliakan. Untuk tugas inilah, Kristus sendiri telah memberikan kuasa kepada Gereja. Pertama Kristus memberikan kuasa-Nya kepada Petrus dan penerusnya, dengan mengatakan “<em>Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.</em>“(Mt 16:19). Dan kepada para murid-Nya yang diteruskan oleh para imam, Kristus mengatakan “<em>22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.</em>“”(Yoh 20:22-23). Semua kuasa-kuasa ini diberikan oleh Kristus kepada Gereja-Nya, sebagai Tubuh Mistik Kristus, sehingga Gereja dapat mengantar seluruh anggota Gereja pada persatuan abadi. Oleh karena itu, Gereja juga diberikan kuasa untuk mengatur seluruh kuasa yang diberikan oleh Kristus. Kekuasaan yuridiksi ini diberikan oleh Gereja untuk mengatur harta kekayaan rohani.</p>
<h2>Indulgensi adalah manifestasi dari harta kekayaan rohani Gereja.</h2>
<p>Pengaturan harta kekayaan Rohani ini adalah bersumber pada Kristus dan para kudus. Seperti yang kita ketahui, bahwa kurban Kristus di kayu salib, bukan hanya cukup untuk menebus dosa manusia, namun merupakan penebusan yang berlimpah.<sup>[<a title="lih. St. Thomas Aquinas, ST, III, q.46, a.2-3" href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#footnote_3_2193">4</a>]</sup> Rahmat berlimpah dari Kristus tidaklah kurang untuk memberikan rahmat kepada seluruh umat manusia, namun rasul Paulus menekankan seluruh umat beriman untuk turut berpartisipasi dalam sengsara Kristus, dengan mengatakan “<em>Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan <strong>menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus</strong>, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat</em>” (Col 1:24). Para santa-santo menjawab panggilan ini dengan sempurna mengikuti apa yang dilakukan oleh Kristus. Oleh karena itu, harta kekayaan rohani yang bersumber pada Kristus dan kekudusan dari para santo-santa, mengalir secara melimpah kepada seluruh anggota Gereja. Dan distribusi kekayaan harta rohani ini dilakukan oleh Gereja, yaitu dengan indulgensi. Dengan indulgensi, Gereja memohon kepada Tuhan agar mengangkat siksa dosa sementara (seluruhnya atau sebagian) bagi orang yang berada di dunia ini maupun yang berada di Api Penyucian, berdasarkan akan harta kekayaan Gereja dan kuasa yang diberikan oleh Kristus kepada Gereja-Nya.</p>
<h2>Definisi indulgensi</h2>
<p>Dari pemikiran di atas, mari sekarang kita masuk dalam definisi indulgensi. Secara jelas, Gereja mendefinisikan indulgensi sebagai berikut:</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">KGK, 1471</span></strong>: “Indulgensi adalah (1) <strong>penghapusan siksa-siksa temporal</strong> di depan Allah untuk (2) <strong>dosa-dosa yang sudah diampuni</strong>. (3) <strong>Warga beriman Kristen</strong> (4) <strong>yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas</strong>, memperolehnya dengan (5) <strong>bantuan Gereja</strong>, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif”. “Ada indulgensi (6) <strong>sebagian </strong>atau <strong>seluruhnya</strong>, bergantung dari apakah ia membebaskan dari siksa dosa temporal itu untuk sebagian atau seluruhnya.” Indulgensi dapat diperuntukkan (7) <strong>bagi orang hidup</strong> dan <strong>orang mati</strong> (Paulus VI, Konst. Ap. “Indulgentiarum doctrina” normae 1-3). (KGK, 1471)</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">KHK, 992</span></strong>: “Indulgensi adalah penghapusan di hadapan Allah hukuman-hukuman sementara untuk dosa-dosa yang kesalahannya sudah dilebur, yang diperoleh oleh orang beriman kristiani yang berdisposisi baik serta memenuhi persyaratan tertentu yang digariskan dan dirumuskan, diperoleh dengan pertolongan Gereja yang sebagai pelayan keselamatan, secara otoritatif membebaskan dan menerapkan harta pemulihan Kristus dan para Kudus.”</p>
<p>Dari definisi di atas, maka kita dapat menyimpulkan beberapa hal berikut ini:</p>
<p>1) <strong>Penghapusan siksa dosa temporal:</strong> berarti bahwa indulgensi tidak dapat merubah keputusan Tuhan bagi orang-orang yang berada di siksa dosa abadi atau neraka. Oleh karena itu, indulgensi hanya dapat diterapkan bagi orang-orang yang masih hidup di dunia ini dan juga yang masih berada di api penyucian. Dengan indulgensi, orang-orang yang masih hidup di dunia ini dapat menghindari siksa dosa sementara (di Api Penyucian)</p>
<p>2) <strong>Dosa-dosa yang sudah diampuni:</strong> berarti indulgensi mensyaratkan dosa-dosa yang sudah diampuni dan bukan dosa yang akan datang. Ini berarti pada waktu kita mendapatkan indulgensi dan kemudian berdosa lagi, maka kita juga perlu untuk mendapatkan indulgensi lagi untuk menghapuskan siksa dosa temporal.</p>
<p>3)<strong> Warga beriman Kristen: </strong>dalam hal ini adalah umat yang telah dibaptis. Kita tahu bahwa Sakramen Baptis adalah gerbang untuk semua sakramen dan berkat-berkat yang lain. Persyaratan yang lain adalah tidak terkena ekskomunikasi, dan dalam kondisi rahmat pada waktu melaksakan indulgensi yang ditetapkan.<sup>[<a title="Kanon 996: Kan. 996 - § 1. Agar seseorang mampu memperoleh indulgensi haruslah ia sudah dibaptis, tidak terkena ekskomunikasi, dalam keadaan rahmat sekurang-kurangnya pada akhir perbuatan-perbuatan yang diperintahkan. § 2. Namun agar orang yang mampu itu " href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#footnote_4_2193">5</a>]</sup></p>
<p>4)<strong> Yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang jelas</strong>: Ini berarti Gereja tidak mengharuskan seseorang untuk menerima indulgensi. Namun Gereja memberikan kesempatan yang begitu banyak, sehingga umat beriman dapat menarik manfaatnya dari berkat ini. Dan Gereja juga memberikan persyaratan yang jelas tentang bagaimana untuk memperoleh indulgensi.</p>
<p>5)<strong> Dengan bantuan Gereja: </strong>Telah dibahas di atas bahwa Yesus sendiri yang memberikan kuasa kepada Gereja untuk memberikan indulgensi kepada umat Allah melalui Gereja. Indulgensi ini hanya dapat diberikan oleh Paus dan orang-orang yang mempunyai kuasa oleh hukum yang diberikan oleh Paus.<sup>[<a title="Lihat Kan 995" href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#footnote_5_2193">6</a>]</sup></p>
<p>6)<strong> Sebagian atau seluruhnya</strong>: Lama dari siksa dosa sementara di purgatorium tidak dapat ditentukan jangka waktunya. Gereja Katolik hanya memberikan indulgensi kepada umat <em>sebagian</em> atau <em>seluruhnya</em>, dimana sebagian berarti mengurangi waktu yang harus dijalankan di purgatorium, sedangkan seluruhnya berarti dibebaskan dari purgatorium.</p>
<p>Karena begitu pentingnya indulgensi dalam mencapai tujuan akhir, maka Gereja mengharuskan seluruh umat beriman untuk percaya akan dogma indulgensi. Konsili trente mengatakan “Terkutuklah kepada siapa yang mengatakan bahwa indulgensi adalah tidak berguna atau mengatakan bahwa Gereja tidak mempunyai kuasa untuk memberikannya.”<sup>[<a title="Konsili Trente, sesi 25, Decree on Indulgences" href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#footnote_6_2193">7</a>]</sup></p>
<h2>Perkembangan dari indulgensi</h2>
<p>Perkembangan dari indulgensi dapat ditelusuri sejalan dengan perkembangan dari Sakramen Pengakuan Dosa. Pada awal perkembangannya, umat beriman harus mengaku dosa di depan umum dan kemudian uskup setempat memberikan suatu hukuman yang berat. Sebagai contoh orang yang melakukan dosa kemurtadan dapat dihukum selama tujuh tahun. Dan selama periode itu, orang tersebut harus melakukan penitensi, yang berat, seperti: berpantang dan berpuasa, berlutut dan berdoa di depan gereja, tidak diperkenankan untuk menerima Tubuh Kristus di dalam perayaan Ekaristi, dll. Namun, orang beriman yang lain dapat turut berpartisipasi untuk turut melakukan penitensi bagi orang tersebut, sehingga hukuman tersebut dapat diperingan. Hal ini juga diperkuat dengan para rahib yang dengan sukarela membantu orang-orang yang sedang sakit namun harus menjalankan penitensi. Semua ini membuktikan akan adanya ikatan dalam satu keluarga Tuhan.</p>
<p>Di abad 11, Paus Urban II pada tahun 1095, memberikan indulgensi bagi orang-orang yang memperjuangkan tanah suci. Dan di abad ke 15, Paus Callistus III (1457) dan Paus Sixtus IV (1476) memberikan indulgensi kepada orang yang telah meninggal, yang masih berada di Api Penyucian.<sup>[<a title="Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma (Rockford, Illinois: Tan Books &amp; Publishers, 1974), hal. 444" href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#footnote_7_2193">8</a>]</sup> Para teolog skolastik mendukung adanya kemungkinan untuk menerapkan indulgensi pada orang yang telah meninggal.<sup>[<a title="St. Thomas Aquinas, Suppl, 71, 10" href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#footnote_8_2193">9</a>]</sup> Kita telah melihat di atas, bahwa persatuan umat Allah tidak dapat dipisahkan oleh maut sekalipun. Oleh karena itu, adalah hal yang logis, kalau indulgensi bukan hanya diperuntukkan untuk orang yang masih hidup, namun juga orang yang telah meninggal, yang tetap menjadi bagian dari Gereja yang menderita, di Api Penyucian.</p>
<h2>Bagaimana untuk mendapatkan indulgensi?</h2>
<p>Mari, sekarang kita melihat, bagaimana seseorang dapat menerima indulgensi. Indulgensi dapat diberikan kepada <strong>seorang Katolik</strong> yang berada <strong>dalam kondisi rahmat </strong>(<em>in a state of grace</em>). Karena indulgensi adalah pengampunan yang diberikan oleh Kristus melalui Gereja-Nya, maka orang yang menerimanya harus berada di dalam Gereja-Nya. Kondisi rahmat diperlukan karena tanpa rahmat Tuhan, maka semua perbuatan yang dilakukan tidak mungkin berkenan di hadapan Allah. Dan sama seperti orang yang ingin mendapatkan pengampunan harus menyatakannya di hadapan Tuhan, maka orang yang ingin mendapatkan indulgensi harus mempunyai<strong> intensi</strong> untuk mendapatkannya dan <strong>melakukan</strong> apa yang harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang digariskan di dalam indulgensi.</p>
<h2>Bagaimana untuk mendapatkan indulgensi penuh?</h2>
<p>Seperti yang telah dijelaskan di atas, indulgensi dapat berupa indulgensi penuh dan indulgensi sebagian. Untuk mendapatkan indulgensi penuh, secara umum seseorang harus melakukan 1) pengakuan dosa, 2) berpartisipasi dalam Ekaristi Kudus, 3) berdoa untuk intensi Paus, 4) melakukan apa yang ditentukan dalam ketentuan indulgensi dan melakukannya dengan hati yang menyesal, 5) bebas dari keterikatan akan dosa &#8211; bukan hanya dosa berat, namun juga dosa ringan. Kondisi terakhir inilah yang memang paling sulit untuk dilakukan. Jika hal ini tidak dipenuhi, maka seseorang akan mendapatkan indulgensi sebagian.</p>
<h2>Bagaimana untuk mendapatkan indulgensi sebagian?</h2>
<p>Beberapa hal di bawah ini adalah cara untuk mendapatkan indulgensi sebagian menurut the <em>Handbook of Indulgences</em> (New York: Catholic Book Publishing, 1991)</p>
<p>1) Doa (<em>spiritual communion</em>) yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>2) Doa meditasi (<em>mental prayer</em>) yang dilakukan dengan teratur dan sungguh-sungguh.</p>
<p>3) Doa rosario yang dilakukan di gereja atau kapel atau dilakukan dalam keluarga, komunitas religius, atau komunitas yang lain.</p>
<p>4) Membaca Alkitab dengan penuh devosi dan hormat karena Alkitab adalah Sabda Tuhan dan sebagai bacaan spiritual. Kalau membaca Alkitab dilakukan secara teratur minimal setengah jam, maka seseorang akan mendapatkan indulgensi penuh, jika kondisi yang lain juga dipenuhi.</p>
<p>5) Membuat tanda salib dengan sungguh-sungguh.</p>
<h2>Menjawab beberapa keberatan indulgensi</h2>
<p>Berikut ini mungkin adalah beberapa keberatan yang sering diajukan mengenai dogma indulgensi.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Keberatan (1)</span>: Upah dosa adalah maut, oleh karena itu tidak ada api penyucian, yang ada hanyalah surga dan neraka. </strong></p>
<p>Karena umat Kristen non-Katolik percaya bahwa hanya ada dua alternatif setelah kematian, maka indulgensi tidaklah diperlukan dan tidak berguna. Bagi orang yang telah masuk surga tidak memerlukan doa dan pengampunan, sedangkan bagi orang yang masuk neraka maka doa tidak akan mengubah keadaan mereka. Untuk menjawab keberatan ini, tidak ada cara lain kecuali mencoba menerangkan dari konsep dosa, yang memang terbagi menjadi dua seperti yang diajarkan oleh Alkitab. Dan dari pengertian akan dosa yang tidak membawa maut, maka Gereja Katolik mengenal adanya dogma “<em>Api Penyucian</em>“.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Keberatan (2)</span>: Kristus telah membayar seluruh dosa kita, sehingga kita tidak perlu untuk membayarnya</strong>.</p>
<p>Dengan indulgensi seolah-olah penebusan Kristus tidaklah cukup untuk membayar seluruh dosa umat manusia. Lebih lanjut, karena umat Kristen percaya akan “<strong>hanya iman saja yang menyelamatkan</strong><em>sola fide</em>)” (lih. Rm 3:28; Rm 4:3-5; Rm 5:1-9, Ef 2:8), maka akan sulit menerima konsep indulgensi. Untuk menjawab keberatan ini, maka harus dimengerti bahwa indulgensi bukanlah membebaskan seseorang dari siksa dosa abadi atau neraka, namun dari siksa dosa sementara di purgatorium. Dan semua jiwa yang ada di purgatorium pasti masuk surga, hanya jiwa-jiwa tersebut perlu membersihkan diri mereka. Dan kalaupun kita masuk ke dalam Surga, maka semuanya itu adalah merupakan berkat dari Tuhan.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Keberatan (3)</span>: Indulgensi membuat pengorbanan Kristus seolah-olah tidak cukup</strong>.</p>
<p>Untuk memahami keberatan ini, maka ada suatu konsep mendasar yang berbeda antara Gereja Katolik dan non-Katolik, yaitu konsep mediasi (pengantaraan) dan partisipasi. Gereja Katolik, sama seperti gereja yang lain percaya bahwa pengorbanan Kristus di kayu salib bukan hanya cukup namun sungguh berlimpah, karena dilakukan oleh Kristus dengan didasari kasih yang sempurna. Prinsip mediasi dan partisipasi merupakan suatu prinsip bahwa seluruh bagian dari Tubuh Mistik Kristus berpartisipasi di dalam karya keselamatan Allah. Pada waktu kita dibaptis, kita sebenarnya juga menerima mandat dari Kristus untuk menjadi nabi, imam dan raja. Mandat ini merupakan partisipasi di dalam Kristus, tanpa mengurangi peran Kristus sendiri. Inilah sebabnya rasul Paulus mengatakan “<em>Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku </em><strong><em>apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat [=ekklesia/Gereja]</em></strong>” (Kol 1:24).</p>
<p>Kita tahu bahwa tidak ada yang kurang dalam penderitaan Kristus, karena penebusan Kristus adalah sempurna. Namun rasul Paulus mengatakan bahwa dia turut berpartisipasi dalam membangun tubuh Kristus, yaitu Gereja. Bukan karena penebusan Kristus kurang sempurna, namun Kristus sendiri yang menginginkan agar kita semua turut berpartisipasi dalam karya penyelamatan. Tubuh Mistik Kristus atau Gereja adalah Gereja yang satu &#8211; yang terdiri dari Gereja yang mengembara di dunia ini, Gereja yang menderita di purgatorium, dan Gereja yang jaya di Surga – dimana semuanya terikat dalam kasih untuk membangun Gereja.[5. Lihat Lumen Gentium, 49] Oleh karena itu, indulgensi yang melepaskan seseorang dari siksa dosa sementara di purgatorium adalah merupakan perbuatan kasih yang begitu nyata. Gereja yang sedang mengembara di dunia ini dan Gereja yang jaya dapat turut mendoakan Gereja yang sedang menderita di Purgatorium, sehingga karena belas kasih Allah, maka mereka dapat diangkat ke Surga.</p>
<p>Bukankah kalau ada salah satu anggota dari keluarga kita ada yang kesulitan, maka seluruh anggota keluarga juga turut membantu?</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Keberatan (4)</span>: Indulgensi seolah-olah hanya memperhatikan sesuatu yang sifatnya lahiriah</strong>.</p>
<p>Mungkin ada yang berkeberatan dengan indulgensi karena dianggap bertentangan dengan Alkitab, dimana rasul Paulus menekankan untuk tidak mempercayai hal-hal yang bersifat lahiriah (Flp 3:1-11). Untuk menjawab keberatan ini, mungkin kita perlu melihat definisi dari indulgensi sendiri yang menekankan akan persyaratan untuk menerima indulgensi, yaitu “<em><strong>untuk dosa-dosa yang sudah diampuni</strong></em>“. Ini berarti bahwa tindakan yang terlihat seperti yang diberikan dalam indulgensi adalah merupakan suatu ekspresi dari apa yang ada di dalam hati. Bukankah kalau seseorang menyanyi dengan sukacita bagi Tuhan, adalah suatu ekspresi apa yang ada di dalam hati, yaitu hati yang ingin memuji Tuhan?</p>
<p>Atau kalau seseorang mempunyai dosa mencuri dan kemudian orang itu tertangkap oleh polisi, maka walaupun orang tersebut telah meminta ampun kepada Tuhan, dia tetap harus menjalankan hukuman, misalkan didenda atau dipenjara. Proses ini sama seperti indulgensi, dimana umat Katolik meminta ampun kepada Tuhan dalam Sakramen Tobat, dan kemudian indulgensi adalah untuk membayar siksa dosa sementara.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Keberatan (5)</span>: Gereja tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni siksa dosa sementara</strong>.</p>
<p>Ada yang berpendapat bahwa Gereja tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa maupun mengampuni siksa dosa sementara. Namun pendapat ini tidaklah tepat, karena Gereja sebenarnya diberi mandat oleh Kristus sendiri untuk mengampuni dosa (Yoh 20:23), mengikat dan melepaskan dosa (Mt 16:19). Kalau kita memperhatikan, sebenarnya hampir semua gereja beranggapan bahwa dengan dibaptis, maka seseorang menerima pengampunan dosa. Dalam hal ini maka gereja-gereja tersebut sebenarnya mengambil konsep mediasi, dimana Gereja menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengampuni dosa orang yang dibaptis. Kalau kita setuju bahwa Tuhan memberikan kuasa yang lebih besar untuk mengampuni dosa lewat Gereja dan Gereja Katolik diberikan kuasa untuk mengikat dan melepaskan dosa, maka adalah sangat wajar jika ini juga termasuk kuasa yang lebih kecil, yaitu untuk mengampuni akibat dosa lewat indulgensi.</p>
<h2>Indulgensi, harta Gereja yang membantu umat Allah untuk bersatu dengan Tuhan.</h2>
<p>Dari semua pemaparan di atas, kita melihat bahwa kita sebenarnya harus bersyukur atas harta kekayaan rohani Gereja, yaitu rahmat yang mengalir dari misteri Paskah Kristus kepada anggota-anggota Tubuh-Nya. Dan kita juga mensyukuri rahmat para kudus, yang berpartisipasi dalam penderitaan Kristus, sehingga dapat menambah harta kekayaan rohani Gereja. Pada saat yang bersamaan, kita semua juga dipanggil untuk mengisi pundi-pundi kekayaan rohani Gereja dengan hidup kudus, seperti yang dikehendaki oleh Kristus sendiri. Dan rahmat yang berlimpah ini dipercayakan oleh Kristus kepada Gereja agar dibagikan kepada umat Allah, sehingga dapat membawa umat kepada persatuan abadi dengan Allah di Sorga.  Selanjutnya, Gereja menggunakan wewenang yang dipercayakan oleh Kristus, dengan indulgensi. Mari, kita bersama-sama mensyukuri dan menggunakan indulgensi ini dengan sebaik-baiknya.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Catatan kaki:</span></strong></p>
<ol>
<li>Reverend      Peter M.J. Stravinskas, Ph.D., S.T.L. Our Sunday Visitor’s Catholic      Dictionary. Copyright © 1994, Our Sunday Visitor: Guilt (GIHLT): (From      Anglo-Saxon gylt: sin or offense) The condition of an individual who has      committed some moral wrong and is liable to receiving punishment as a      consequence of wrongdoing. [<a href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#identifier_0_2193">↩</a>]</li>
<li>Pembahasan      lengkap tentang topik ini silakan membaca artikel “Masih perlukah sakramen      pengakuan dosa bagian 1″ [<a href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#identifier_1_2193">↩</a>]</li>
<li>Lihat      KGK, 1031, 1472, 1861 [<a href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#identifier_2_2193">↩</a>]</li>
<li>lih. St.      Thomas Aquinas, ST, III, q.46, a.2-3 [<a href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#identifier_3_2193">↩</a>]</li>
<li>Kanon      996: Kan.      996 &#8211; § 1. Agar seseorang mampu memperoleh indulgensi haruslah ia sudah      dibaptis, tidak terkena ekskomunikasi, dalam keadaan rahmat      sekurang-kurangnya pada akhir perbuatan-perbuatan yang diperintahkan. § 2.      Namun agar orang yang mampu itu memperolehnya, haruslah ia      sekurang-kurangnya mempunyai intensi untuk memperolehnya dan melaksanakan      perbuatan-perbuatan yang diwajibkan, pada waktu yang ditentukan dan dengan      cara yang semestinya, menurut petunjuk pemberian itu. [<a href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#identifier_4_2193">↩</a>]</li>
<li>Lihat Kan      995 [<a href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#identifier_5_2193">↩</a>]</li>
<li>Konsili      Trente, sesi 25, Decree on Indulgences [<a href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#identifier_6_2193">↩</a>]</li>
<li>Ludwig      Ott, <em>Fundamentals of Catholic Dogma</em> (Rockford, Illinois: Tan Books      &amp; Publishers, 1974), hal. 444 [<a href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#identifier_7_2193">↩</a>]</li>
<li>St.      Thomas Aquinas, Suppl, 71, 10 [<a href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/#identifier_8_2193">↩</a>]</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditulis oleh <a title="Posts by Stefanus Tay" href="http://katolisitas.org/author/stef/">Stefanus Tay</a> on Jul 11th, 2009 di http://katolisitas.org/</p>
<br />Posted in Indulgensi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tueresmidios.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tueresmidios.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tueresmidios.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tueresmidios.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tueresmidios.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tueresmidios.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tueresmidios.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tueresmidios.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tueresmidios.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tueresmidios.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tueresmidios.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tueresmidios.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tueresmidios.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tueresmidios.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=210&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/25/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3324c40296b6db4161334ffa3ee9615b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tueresmidios</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tueresmidios.files.wordpress.com/2009/11/pengakuan-dosa.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pengakuan-dosa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HAL KORBAN SALIB KRISTUS DAN PENYERAHAN DIRI KITA SENDIRI</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/25/hal-korban-salib-kristus-dan-penyerahan-diri-kita-sendiri/</link>
		<comments>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/25/hal-korban-salib-kristus-dan-penyerahan-diri-kita-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 00:50:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tueresmidios</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thomas a Kempis]]></category>
		<category><![CDATA[Sakramen yang Mahakudus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tueresmidios.wordpress.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Yang Terkasih Bersabda: 1. Sebagaimana Aku dengan ikhlas telah mengorbankan Diriku sendiri kepada Allah, Bapaku, dengan mengulurkan tangan dan badan yang terbuka untuk dosa-dosamu, hingga tak ada satupun padaKu yang tidak telah Kukorbankan untuk memberi silih kepada Allah, demikianlah juga kamu hendaklah menyerahkan dirimu sendiri kepadaKu bagaikan korban yang suci dan kudus serta ikhlas, tiap-tiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=206&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yang Terkasih Bersabda:</p>
<p>1. Sebagaimana Aku dengan ikhlas telah mengorbankan Diriku sendiri kepada Allah, Bapaku, dengan mengulurkan tangan dan badan yang terbuka untuk dosa-dosamu, hingga tak ada satupun padaKu yang tidak telah Kukorbankan untuk memberi silih kepada Allah, demikianlah juga kamu<span id="more-206"></span> hendaklah menyerahkan dirimu sendiri kepadaKu bagaikan korban yang suci dan kudus serta ikhlas, tiap-tiap hari dalam misa kudus, dengan segala kekuatan dan hasrat yang ada padamu dan dengan takwa sebesar-besarnya.</p>
<p>Tak ada lain yang Kukehendaki daripadamu, daripada supaya engkau berusaha menyerahkan dirimu sendiri sama sekali kepadaKu.</p>
<p>Segala apa saja yang engkau persembahkan, kecuali dirimu sendiri, tidaklah Kuhargai, sebab yang kucari bukanlah persembahanmu, melainkan dirimu sendiri.</p>
<p>2. Sebagaimana tidak cukup bagimu memiliki segalanya kecuali Diriku, begitulah juga apa yang engkau persembahkan tak dapatlah berkenan kepadaKu, bila engkau tidak mempersembahkan dirimu sendiri.</p>
<p>Korbankanlah dirimu sendiri kepadaKu dan serahkan dirimu sama sekali kepada Allah; dan itu akan merupakan korban yang sangat berkenan.</p>
<p>Lihatlah, Aku telah menyerahkan Diriku kepada Bapa sebagai korban; bahkan Tubuh dan Darahku telah Kuberikan kepadamu sebagai santapan, agar supaya Aku menjadi milikmu sama sekali dan engkau tetap menjadi milikku.</p>
<p>Tetapi apabila engkau tetap lekat pada dirimu sendiri dan tidak mau secara ikhlas mengorbankan dirimu sendiri kepada kehendakKu, maka korbanMu tidaklah sempurna juga.</p>
<p>Maka hendaklah segala pekerjaanmu didahului oleh penyerahan dirimu sendiri dengan ikhlas kepada Tuhan Allah, bila engkau ingin memperoleh kebebasan dan rahmat.<!--more--></p>
<p>Maka hanya sedikitlah orang yang merasa terang dan bebas dalam hati, karena mereka tiada mampu menyangkal diri sendiri dengan sempurna.</p>
<p>Inilah tetap menjadi pendirianKu: Barang siapa tidak menyangkal segalanya, tidak dapatlah ia menjadi muridKu (Luk. 14 : 33). Maka jika engkau mau menjadi muridKu, korbankanlah dirimu beserta dengan segala keinginanmu kepadaKu.</p>
<br />Posted in Thomas a Kempis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tueresmidios.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tueresmidios.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tueresmidios.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tueresmidios.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tueresmidios.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tueresmidios.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tueresmidios.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tueresmidios.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tueresmidios.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tueresmidios.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tueresmidios.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tueresmidios.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tueresmidios.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tueresmidios.wordpress.com/206/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=206&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/25/hal-korban-salib-kristus-dan-penyerahan-diri-kita-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3324c40296b6db4161334ffa3ee9615b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tueresmidios</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Real Presence: Christ&#8217;s Body</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/11/the-real-presence-christs-body/</link>
		<comments>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/11/the-real-presence-christs-body/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 13:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tueresmidios</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Ekaristi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tueresmidios.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Posted in Video<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=204&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/11/the-real-presence-christs-body/"><img src="http://img.youtube.com/vi/2AQkHctZsUM/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />Posted in Video  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tueresmidios.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tueresmidios.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tueresmidios.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tueresmidios.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tueresmidios.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tueresmidios.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tueresmidios.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tueresmidios.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tueresmidios.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tueresmidios.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tueresmidios.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tueresmidios.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tueresmidios.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tueresmidios.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=204&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/11/the-real-presence-christs-body/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3324c40296b6db4161334ffa3ee9615b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tueresmidios</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Devosi Kepada Bunda Maria</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/09/devosi-kepada-bunda-maria/</link>
		<comments>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/09/devosi-kepada-bunda-maria/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 14:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tueresmidios</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adorasi]]></category>
		<category><![CDATA[Devosi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tueresmidios.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Definisi dan inti devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik. I. DEFINISI: Devosi Marial (hyperdulia) adalah seluruh kebaktian kepada Maria Ibu Yesus dari Nazaret dalam bentuk puji-pujian, kagum, hormat dan cinta dengan meneladani cara hidupnya sambil memohon bantuan pengantaraan doanya bagi Gereja yang masih sedang dalam perjalanan ziarah menuju persatuan dengan Allah di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=202&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Definisi dan inti devosi kepada</strong><br />
<strong>Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.</strong></p>
<p><strong>I. DEFINISI:</strong><br />
Devosi Marial (hyperdulia) adalah seluruh kebaktian kepada Maria Ibu Yesus dari Nazaret dalam bentuk puji-pujian, kagum, hormat dan cinta dengan meneladani cara hidupnya sambil memohon bantuan pengantaraan doanya bagi Gereja yang masih sedang dalam perjalanan ziarah menuju persatuan dengan Allah di tanah air surgawi (bdk.LG No. 66) Setelah mendapat khabar gembira dari Malaikat Tuhan (Lukas 1:26-38), Maria amat bersukacita dan bernubuat: &#8220;Yes, from this day forward all generations will call me blessed, for the Almighty has done a great things for me&#8221; (Lukas 1:48).<span id="more-202"></span><br />
Secara singkat kita dapat menyebut beberapa alasan pokok mengapa Maria dapat dihormati khusus dan dapat dimintakan pengantaraan doanya oleh umat beriman:</p>
<ul>
<li>Pertama, Maria dipilih      Tuhan secara istimewa untuk menjadi Bunda Tuhan <a href="http://www.imankatolik.or.id/yesuskristus.html">Yesus Kristus</a> juru selamat manusia. Pemilihan yang istimewa ini sangat dirasakan      akibatnya yang membahagiakan oleh Gereja sepanjang masa.</li>
</ul>
<ul>
<li>Kedua, seperti yang      dijelaskan oleh Lumen Gentium No.62, keibuan Maria dalam tata rahmat      berlangsung terus tanpa putus, mulai dari persetujuan yang diberikannya      dengan setia pada saat menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel dan      yang dipertahankannya tanpa ragu sampai di kaki salib sampai kepada      kesempurnaan abadi semua orang beriman. Karena setelah diangkat ke surga,      Maria tidak meninggalkan tugas ini, melainkan melanjutkannya melalui      peraantaraan limpah dengan memberikan kita anugerah keselamatan abadi. Hal      itu menunjukkan bahwa peran Maria dalam tata penyelamatan tetap aktual      sepanjang sejarah Gereja tanpa terhenti oleh hilangnya Maria secara fisik      dari panggung sejarah dunia. Karena itu Maria sungguh melebihi segala      makluk di surga maupun di bumi, dan keunggulan ini sekaligus menjadi      alasan bagi umat beriman untuk memuji, mencinta khusus, mengagumi dan      menghormati Maria sambil meneladani dan memohon bantuan pengantaraan      doanya pada Allah.</li>
</ul>
<p><strong>II. INTI DEVOSI KEPADA MARIA:</strong></p>
<p>Kalau diperiksa dengan teliti, maka kita akan menemukan tiga elemen yang membentuk kesatuan inti devosi kepada Maria, yaitu: puja-puji Maria, mencontoh Maria dan memohon bantuan pengantaraan doa Maria.</p>
<ul>
<li>Memuji Maria</li>
</ul>
<p>Puja-puji merupakan salah satu elemen inti devosi kepada Maria. Kitab Suci sendiri mencatat pujian Elisabet dan anak dalam rahimnya sebagai pujian paling pertama bagi Maria: &#8220;Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai IBU TUHANKU datang mengunjungi aku?&#8230;anak di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia yang telah percaya&#8221; (Luk 1:42-45). Dalam devosi marial, umat beriman, sama seperti dilakukan Eliabeth dan anak dalam rahimnya, mengagumi dan menghormati Maria karena perannya menjadi ibu Tuhan, Bunda Mesias. Bunda Maria dipuji karena karya agung Allah dalam diriNya. Maria tidak dihormati seakan dia berprestasi atas usaha-usahanya sendiri, melainkan karena di dalam dia Allah berkarya secara luar biasa St. Chrisostomus memberikan contoh tentang bagaimana dan apa alasan Maria dipuji: &#8220;Sungguh pantas dan wajarlah kami memuji dikau, o Bunda Allah yang amat kudus, suci murni dan bunda Tuhan kami. Kami menghormati engkau yang seharusnya dipuji melebihi Kerubim dan Seraphim. Engkau yang tanpa kehilangan keperawananmu melahirman Sabda Tuhan. Engkaulah sungguh-sungguh Bunda Allah.</p>
<ul>
<li>Mencontoh Maria</li>
</ul>
<p>Dalam devosi marial, kita tidak hanya cukup sampai pada sikap heran, kagum dan puji Maria karena karya Agung Allah dalam dirinya, tapi kita, umat beriman juga harus mencontohi Maria sebagai citra dalam hal iman, cintakasih persatuan yang sempurna dengan Kristus. Gereja mengajarkan bahwa Maria adalah typos Gereja (gambaran Gereja), gambaran umat beriman dalam perjalanan menuju Allah. Itu berarti dalam usaha menjawab panggilan Allah, kita bisa belajar pada Maria tentang bagaimana menjawab panggilan Allah dan hidup seturut firmanNya, tentang bagaimana mengikuti Yesus secara sempurna, dan bagiamana melaksanakan kehendak Allah dengan setia.</p>
<ul>
<li>Memohon pengantaraan doa      Maria:</li>
</ul>
<p>Di samping memuji dan mencontohi berbagai keutamaan Maria, umat beriman dapat berdoa kepada Maria. Akan tetapi diusahakan sekian sehingga doa-doa itu tidak bercorak seakan-akan Maria dapat menganugerahi sesuatu tanpa diketahui Allah sendiri. Doa kepada Maria lebih berarti  DENGAN ALLAH. Tentang ini St. Thomas Aquninas menjelaskan, doa dalam artinya sebenarnya memang hanya ditujukan kepada Allah karena hanya Allah yang patut disembah. Selain itu doa kita dimaksudkan untuk memperoleh rahmat yang hanya bisa diberikan oleh Allah seorang diri. Tapi kalau doa-doa kita ditujukan kepada para malaikat dan orang kudus, maka hal itu terjadi karena mereka sudah dipersatukan secara erat dengan Allah dan doa-doa kita akan menjadi lebih efektif melalui doa-doa dan jasa kepengantaraan mereka. Jadi para kudus sendiri tidak mengabulkan doa kita, tapi mereka dapat mendoakan kita pada Allah, atau menyampaikan doa-doa kita kepada Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>III. MACAM-MACAM GEJALA PRAKTEK DEVOSI MARIAL:</strong></p>
<p>Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka diperkirakan bertumbuhlah kepercayaan akan perlindungan Maria dan bentuk-bentuk devosi kepadanya, seperti:</p>
<p><strong>A. Doa kepada Maria:</strong></p>
<p>Seperti Doa Salam Maria, Sabtu sebagai Hari Maria dan Mei sebagai Bulan Maria.</p>
<ol>
<li>Doa Salam Maria:</li>
</ol>
<p>Doa salam Maria berasal dari Salam Malaikat Gabriel (Lk 1:28) dan pujian Elisabet (Lk 1:42). ada abad ke-VI untuk pertama kalinya di Gereja Timur (Yunani) &#8220;Salam Malaikat Gabriel dan pujian Elisabeth&#8221; digabungkan: &#8220;Salam Maria penuh rahmat. Tuhan sertamu. Terpujilah Engkau di antara semua wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus&#8221;. Rumusan doa ini dijadikan sebagai doa antiphon dan didaraskan secara berulang-ulang. Baru setelah beberapa tahun kemudian, antiphon yang berasal dari salam malaikat dan Elisabeth ini disatukan dengan doa permohonan Gereja (umat beriman): &#8220;Santa Maria Bunda Allah, doakan kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.&#8221;</p>
<ol>
<li>Sabtu sebagai Hari Maria:</li>
</ol>
<p>Pada abad yang sama (IV) Hari Sabtu juga dipersembahkan kepada Maria untuk mperingati kedukaan Maria yang sangat dalam atas kematian PuteraNya Yesus Kristus.</p>
<ol>
<li>Mei sebagai Bulan Maria:</li>
</ol>
<p>Mei masih merupakan bagian musim semi untuk Eropa. Karena itu umat Eropa dulu mempersembahkan bulan Mei kepada Maria agar bunga-bunga yang bersemua pada bulan ini mendorong kita untuk merenungkan kelimpahan harta rohani Bunda Maria. Seperti bunga-bunga musim semi menghiasi bumi, demikian juga umat beriman diharapkan secara alamiah bagai bunga-bunga bersemi menghormati maha pencipta bersama Maria.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B.  Empat Antipon Utama Maria: </strong></p>
<table border="0" cellpadding="0" width="476">
<tbody>
<tr>
<td width="20">1.</td>
<td>Alma Redemtoris Mater:</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="450">
<ul>
<li>dinyanyikan pada        masa Adventus.</li>
<li>dalam lagu ini        Maria dipuji sebagai &#8220;gerbang surga dan bintang laut&#8221; karena        menerima salam malaikat Gabriel dan akan melahirkan penebus manusia.</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td>2.</td>
<td>Ave Regina Caelorum</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td>
<ul>
<li>dinyanyikan sejak        masa natal sampai pekan suci.</li>
<li>Isinya: semacan        ajakan atau rayuan umat beriman agar Maria sudi bergembira bersama        Gereja atas karunia penebusan melalui Yesus Kristus.</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td>3.</td>
<td>Regina Caeli</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td>
<ul>
<li>dinyanyikan pada        masa paska.</li>
<li>Isinya: ajakan umat        beriman agar Maria bergembira bersama Gereja atas kebangkitan Puteranya        Yesus Kristus dari kematian</li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr>
<td>4.</td>
<td>Salve Regina:</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td>
<ul>
<li>dinyanyikan pada        masa biasa setelah masa paska sampai sebelum adventus.</li>
<li>Isinya: maria        dipuji sebagai bunda pemurah, dan harapan umat beriman. Maria diyakini        sebagai pembela umat beriman pada pengadilan terakhir di hadapan Kristus        sebagai HAKIM pada akhir jaman.</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a href="http://www.imankatolik.or.id/litanisp.html"><strong>C. Litani St. Maria:</strong></a></p>
<p>Dalam doa litani, Maria diberi gelar dan nama yang bermacam-macam, dan kemudian dia dipuji berdasarkan gelar-gelar itu.</p>
<p><a href="http://www.imankatolik.or.id/doarosario.html"><strong>D. Doa Rosario</strong></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>IV. DOA ROSARIO DAN SEJARAHNYA:</strong></p>
<ol>
<li><strong>Definisi:</strong></li>
</ol>
<p>Doa Rosario: doa kepada atau melalaui Maria dengan mendaraskan 150 kali Salam Maria sambil merenungkan peristiwa-peristiwa inti hidup Yesus dan Maria sambil menghitung biji rosario (to keep truck).</p>
<ol>
<li><strong>Rosario</strong><strong> dalam      sejumlah agama:</strong></li>
</ol>
<p>Kebiasaan berdoa dengan menggunakan hitungan biji-bijian sudah sangat tua usianya.</p>
<ol>
<li>
<ul>
<li>Orang peru       kuno sudah memakai hitungan manil-manik dalam doa mereka.</li>
<li>Di Ninive (abad IX BC)       ditemukan angka pahatan yang memperlihatkan sebuah untaian manik-manik.</li>
<li>Orang Islam, Hindu, Bunda di Cina, India dan Jepang sudah lama       mengenal kebiasaan berdoa sambil memakai hitungan biji-bijian.</li>
<li>Umat Islam khususnya       mengenal doa yang disebut &#8220;doa tasbih&#8221;, yaitu doa yang terdiri       atas sebuah untaian 99 butir untuk menyebut nama Allah yang Mahaesa.</li>
<li>Tasbih yang sama       sudah ada pada umat Kristen Timur (Yunani) sejak lama yang       mengulang-ulang doa pendek tertentu dengan menyebut nama Allah dan Yesus       Kristus.</li>
<li>Rangkaian doa tasbih       ditemukan dalam kubur Santa Getrudis dari Nivella pada abad yang ke IV.</li>
<li>Para pertapa di padang gurung dulu       juga biasa memakai hitungan biji tasbih dalam doa mereka. Para pertapa itu mempunyai sebuah bakul yang       berisikan kelereng yang berfungsi untuk menghubungkan doa-doa mereka yang       mereka ucapkan setiap hari.</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Itu berarti, pemakaian hitungan biji tasbih dalam doa-doa sudah sangat tua usia nya dan merupakan suatu gejala umum pada setiap agama, dan umumnya bertujuan untuk MENGHITUNG DOA-DOA TERTENTU SEHINGGA MUDAH DIDARASKAN BERSAMA DAN UNTUK MENCIPTAKAN KONSENTRASI WAKTU BERDOA.</p>
<ol>
<li><strong><a href="http://www.imankatolik.or.id/doarosario.html">Doa Rosario</a> pada      Abad Pertengahan:</strong></li>
</ol>
<p>&#8220;Rosario&#8221; berasal dari kata bahasa Latin &#8220;rosa&#8221;, artinya &#8220;bunga mawar&#8221;. Sedangkan &#8220;rosario&#8221; artinya &#8220;rangkaian atau untaian karangan bunga mawar&#8221;. Di Eropa dulu (dan sampai sekarang), bunga mempunyai arti yang sangat penting. Bunga bisa diberikan kepada seseorang sebagai tanda cinta, sayang atau hormat.Pada abad pertengahan khususnya, seorang hamba mempunyai kebiasaan merangkaikan karangan bunga mawar untuk kemudian dipersembahkan kepada tuannya. Diperkirakan bahwa umat Kristen pada zaman ini secara imitatif mengambil alih kebiasaan ini. Dalam devosi kepada Maria, umat Kristen menyadari diri sebagai hamba-hamba Maria. Lalu sebagai pelayaan Maria, mereka merangkaikan bunga mawar (wreaths and crowns of roses) untuk dipersembahkan kpd Maria. Demikianlah devosi marial pada abad pertengahan berpusat pada simbol bunga mawar. Caranya: Umat Kristen merangkaikan bunga mawar itu semacam mahkota, lalu meletakannya di rumah ibadat di depan gambar atau patung St. Maria. Dalam proses merangkaikan bunga mawar itu, mereka mengucapkan litani pujian kepada Maria. Dengan itu tidak terlalu sulit untuk memahami bahwa biji tasbih atau mani-manik yang sekarang lebih dikenal dengan nama BIJI ROSARIO merupakan perkembangan untaian mahkota bunga mawar itu.</p>
<ol>
<li><strong>Hubungan <a href="http://www.imankatolik.or.id/doarosario.html">Doa Rosario</a> dan      150 <a href="http://www.imankatolik.or.id/isialkitab/Mazmur.html">Mazmur</a> Daud:</strong></li>
</ol>
<p>Pada mulanya doa Gereja perdana berpusat sekitar 150 <a href="http://www.imankatolik.or.id/isialkitab/Mazmur.html">mazmur</a> Daud. Pada jaman Renainsance pada umumnya umat beriman, yang dapat membaca, memiliki buku doa mazmur. Pada rahib biasanya membagi 150 <a href="http://www.imankatolik.or.id/isialkitab/Mazmur.html">mazmur</a> itu atas tiga bagian berdasarkan atas tiga pembagian waktu doa yaitu pagi, siang dan malam., sehingga menjadi 3 kali 50 <a href="http://www.imankatolik.or.id/isialkitab/Mazmur.html">mazmur</a>. Sedangkan umat beriman, yang tidak dapat membaca, dapat mendaraskan 150 kali <a href="http://www.imankatolik.or.id/bapakami.html">Doa Bapa Kami</a> dan Salam Maria sebagai ganti 150 <a href="http://www.imankatolik.or.id/isialkitab/Mazmur.html">mazmur</a> Daud ( 3 kali 50) dalam waktu sehari. Dan untuk menjamin konsetrasi dalam berdoa, mereka memakai bantuan hitungan tasbih. Dengan demikan, pada mulanya doa rosario menjadi doa pengganti doa <a href="http://www.imankatolik.or.id/isialkitab/Mazmur.html">mazmur</a> bagi saudara-saudara yang tidak dapat membaca. Sebab itu, waktu kerap kali doa Rosario disebut &#8220;Kitab <a href="http://www.imankatolik.or.id/isialkitab/Mazmur.html">mazmur</a><a href="http://www.imankatolik.or.id/maria.html"> Maria</a>&#8221; (the Psalter of Our Lady). <a href="http://www.imankatolik.or.id/doarosario.html">Doa Rosario</a> dalam paralelitasnya dengan doa Mazmur dapat dirincikan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>&#8220;<a href="http://www.imankatolik.or.id/bapakami.html">Bapa Kami</a>&#8221;      sebagai pengganti Antiphon <a href="http://www.imankatolik.or.id/isialkitab/Mazmur.html">mazmur</a>,</li>
<li>Sepuluh kali doa      &#8220;Salam Maria&#8221; berperan sebagai pengganti pendarasan Mazmur,</li>
<li>dan &#8220;kemuliaan kepada      Bapa&#8230;&#8221; berperan sebagai doa tanggapa</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>Bulan Oktober      sabagai Bulan Rosario:</strong></li>
</ol>
<p>Semangat dan minat umat Kristen Katolik terhadap <a href="http://www.imankatolik.or.id/doarosario.html">doa rosario</a> mendorong sejumlah Paus untuk menetapakan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. <a href="http://www.imankatolik.or.id/sejarahpaus/Leo%20XIII.html">Paus Leo XIII</a> secara resmi yang secara resmi menetapkan bulan Oktober sebagai bulan rosario, menulis: &#8220;Kepada Bunda Surgawi ini kita telah persembahkan kembang-kembang mawar pada bulan Mei, maka kepadanya kita juga hendak mempersembahkan paneh buah-buahan yang berlimpah bulan Oktober dengan hati yang penuh ikhlas.&#8221; Pada tahun 1883, dalam Eksikliknya &#8220;Supremasi Apostolatus&#8221; <a href="http://www.imankatolik.or.id/sejarahpaus/Leo%20XIII.html">Paus Leo XIII</a> menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario bagai semua Gereja Kristen Katolik. Pada tahun 1885 malah Paus ini mengatakan bahwa umat dapat memperoleh indulgensi dengan <a href="http://www.imankatolik.or.id/doarosario.html">berdoa Rosario</a> pada bulan Oktober. Dalam sebuah suratnya, <a href="http://www.imankatolik.or.id/sejarahpaus/Leo%20XIII.html">Paus Leo XIII</a> lagi-lagi mengijinkan para petani, yang pada umumnya sangat sibuk mengumpulkan panenan pada bulan Oktober, untuk menunda <a href="http://www.imankatolik.or.id/doarosario.html">berdoa Rosario</a> pada bulan November atau Desember.</p>
<ol>
<li><a href="http://www.imankatolik.or.id/doarosario.html">doa rosario</a> dan      Tarekat Dominikan: Ada yang berpendapat      bahwa Doa Rosario      ditemukan (diciptakan) oleh Tarekat Dominikan di bawah pimpinan Alanus De Rupe.      Pendapat ini tidak benar seluruhnya. Tapi yang jelas bahwa dalam sejarah      Gereja, Tarekat Dominikan dikenal berjasa dalam menyebarluaskan dan      mempopulerkan <a href="http://www.imankatolik.or.id/doarosario.html">Doa      rosario</a> di sebagian besar wilayah Eropa pada Abad Pertengahan. Pada      tahun 1470 Alanus de Rupe (Dominikan) mendirikan sebuah Tarekat Religius      bernama &#8220;Serikat Mazmur <a href="http://www.imankatolik.or.id/yesuskristus.html">Yesus</a> dan <a href="http://www.imankatolik.or.id/bundamaria.html">Maria</a>&#8221;      (Conferternity of the Psalter of Jesus and Mary&#8221;. Di dalam dan      melalui tarekat ini Alanus de Rupe menunjukan semangat dan kecintaannya      yang sangat besar kepada Bunda Maria.Pada abad yang sama di Eropa,      terutama di Perancis dan Italia, munculah sebuah kelompok heretis yang      disebut Kaum Albigensis. Malalui kothbah yang berapi-api dan semangat doa      yang tinggi, termasuk secara khusus doa-doa kepada Bunda Maria, Alanus de      Rupe dan kaum biarawan Dominikan lainnya berhasil mentobatkan kaum Albigensis      dan membawa mereka kembali kepada ajaran Gereja yang benar.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Rm. Alex Jebadu, SVD</strong></em></p>
<p>Sumber : http://imankatolik.or.id</p>
<br />Posted in Adorasi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tueresmidios.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tueresmidios.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tueresmidios.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tueresmidios.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tueresmidios.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tueresmidios.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tueresmidios.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tueresmidios.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tueresmidios.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tueresmidios.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tueresmidios.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tueresmidios.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tueresmidios.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tueresmidios.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=202&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/11/09/devosi-kepada-bunda-maria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3324c40296b6db4161334ffa3ee9615b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tueresmidios</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The truth about the Catholic Mass</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/10/31/the-truth-about-the-catholic-mass/</link>
		<comments>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/10/31/the-truth-about-the-catholic-mass/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 00:46:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tueresmidios</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Ekaristi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tueresmidios.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Posted in Video<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=197&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://tueresmidios.wordpress.com/2009/10/31/the-truth-about-the-catholic-mass/"><img src="http://img.youtube.com/vi/78IziLQb658/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />Posted in Video  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tueresmidios.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tueresmidios.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tueresmidios.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tueresmidios.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tueresmidios.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tueresmidios.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tueresmidios.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tueresmidios.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tueresmidios.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tueresmidios.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tueresmidios.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tueresmidios.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tueresmidios.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tueresmidios.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=197&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/10/31/the-truth-about-the-catholic-mass/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3324c40296b6db4161334ffa3ee9615b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tueresmidios</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HAL MENYELIDIKI SUARA KALBU DAN NIAT AKAN MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI</title>
		<link>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/10/31/hal-menyelidiki-suara-kalbu-dan-niat-akan-memperbaiki-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/10/31/hal-menyelidiki-suara-kalbu-dan-niat-akan-memperbaiki-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 00:40:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tueresmidios</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thomas a Kempis]]></category>
		<category><![CDATA[Sakramen yang Mahakudus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tueresmidios.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Yang Terkasih Bersabda: 1. Yang penting sekali bagi imam Allah yaitu dengan rendah hati yang sebesar-besarnya dan dengan hormat yang penuh, dengan kepercayaan yang besar dan kehendak yang murni menghormati Allah, menghadap untuk merayakan, membagi-bagikan dan menyambut rahasia yang kudus ini. Hendaklah engkau periksa suara kalbumu dengan teliti; dan murnikan serta sucikan sebaik-baiknya dengan rasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=194&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yang Terkasih Bersabda:</p>
<p>1. Yang penting sekali bagi imam Allah yaitu dengan rendah hati yang sebesar-besarnya dan dengan hormat yang penuh, dengan kepercayaan yang besar dan kehendak yang murni menghormati Allah, menghadap untuk merayakan, membagi-bagikan dan menyambut rahasia yang kudus ini.<span id="more-194"></span></p>
<p>Hendaklah engkau periksa suara kalbumu dengan teliti; dan murnikan serta sucikan sebaik-baiknya dengan rasa menyesal yang sungguh dan dengan mengaku dosa dengan rendah hati; hingga tak ada rasa yang menekan atau menakuti kamu, untuk menghadapNya dengan rasa yang bebas. Hendaklah engkau benci segala dosa-dosamu pada umumnya dan hendaklah pada khususnya lebih engkau sesalkan kesalahan-kesalahanmu sehari-hari.</p>
<p>Dan bila waktu mengijinkan, akuilah dalam batin segala kesukaran hawa nafsumu di hadapan Tuhan Allah.</p>
<p>2. Hendaklah engkau mengeluh dan bersedih, karena engkau masih begitu lekat pada kenikmatan daging dan kenikmatan dunia; begitu lemah mengendalikan hawa nafsumu dan begitu penuh keinginan yang jahat; begitu tak terjaga dalam panca indra lahir, begitu seringkali kacau, karena banyak pikiran-pikiran yang tak berguna; begitu cenderung kepada hal-hal yang di luar, begitu tak perduli akan hal-hal kebatinan; begitu mudah tertarik untuk tertawa dan ria, begitu keras hati terhadap tangis dan tobat; begitu suka akan kelemahan dan kenikmatan badan, begitu malas akan kecermatan dan semangat yang nyala; begitu ingin akan mendengar berita-berita baru dan melihat barang-barang yang indah, begitu malas mengerjakan hal-hal yang rendah dan hina; begitu loba untuk memiliki banyak barang, begitu kikir dalam memberi, begitu keras untuk mempertahankan miliknya; begitu lancang dalam percakapan, begitu kurang kuat untuk diam; begitu sembrono dalam kelakuanmu dan tergesa-gesa dalam tindakanmu; begitu besar hasratmu terhadap makanan, begitu tuli sebaliknya terhadap sabda Allah; begitu cepat akan istirahat, begitu lambat untuk bekerja; begitu besar perhatianmu dalam bercakap-cakap yang tak berisi, begitu teledor dalam waktu sembahyang malam; begitu ingin akan selesai, begitu lalai dalam perhatian; begitu malas dalam sembahyang waktu, begitu teledor dalam mempersembahkan misa, begitu kering rasanya dalam menyambut komuni; begitu lekas kabur pikirannya, begitu jarang sungguh bertakwa; begitu lekas menjadi marah, begitu mudah menyakiti hati orang lain; begitu cepat mengadili orang lain, begitu keras dalam mencela pula; begitu ria dalam keuntungan, begitu sendu dalam kemalangan; begitu seringkali penuh niat yang baik, tetapi sedikit yang engkau jalankan.</p>
<p>3. Bila engkau telah mengaku kesalahan-kesalahan tersebut dan lain sebagainya dengan rasa sesal dan kesusahan yang besar akan kelemahanmu dan telah menangisinya, hendaklah engkau membangun niat yang kuat, untuk memperbaiki hidupmu dan selalu maju dalam kebaikan.</p>
<p>Serahkanlah dengan segala suka hati dan dengan segala kehendak dirimu sendiri, dan NamaKu, sebagai korban bakar yang kekal di atas altar hatimu; ialah dengan menyerahkan sama sekali tubuh dan jiwamu kepadaKu; supaya dengan demikian engkau pantas mempersembahkan korban kepada Allah dan pantas menyambut Sakramen Tubuhku dengan memperoleh buah.</p>
<p>4. Sebab tak ada korban yang lebih pantas dan tak ada silih yang lebih besar untuk menghapus dosa-dosanya, daripada menyerahkan diri sama sekali dengan hati murni kepada Allah bersama dengan korban Tubuh Kristus dalam korban misa dan dalam komuni.</p>
<p>Bila orang telah berusaha dengan kekuatan yang ada padanya dan telah sungguh menyesal, beberapa kali pun saja ia datang kepadaKu, untuk mohon ampun dan rahmat: Sungguh Aku katakan, demikian sabda Tuhan, Aku tidak menghendaki kematian orang berdosa, melainkan agar bertobatlah ia dan hidup (Yeh. 33 : 11); sebab dosa-dosanya tak akan Kupikirkan lebih lama lagi (lbr. 10 : 17), tetapi akan diberi ampun.</p>
<br />Posted in Thomas a Kempis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tueresmidios.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tueresmidios.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tueresmidios.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tueresmidios.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tueresmidios.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tueresmidios.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tueresmidios.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tueresmidios.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tueresmidios.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tueresmidios.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tueresmidios.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tueresmidios.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tueresmidios.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tueresmidios.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tueresmidios.wordpress.com&amp;blog=9792406&amp;post=194&amp;subd=tueresmidios&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tueresmidios.wordpress.com/2009/10/31/hal-menyelidiki-suara-kalbu-dan-niat-akan-memperbaiki-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3324c40296b6db4161334ffa3ee9615b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tueresmidios</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
